‘Cat Woman bukan jagoan Amerika Serikat ternyata, Pakne!’ ujar Surti sambil menampar suaminya yang sempoyongan dengan lembar lembar koran berhamburan.
‘Ada apa je, Bune ….’ si suami mengelus elus pipinya yang memar biru. Ini seringkali Surti lakukan sebagai tanda kasih sayang.
‘Ya kita selama ini dikadalin Amerika Jahanam itu!’
‘Jaga bahasamu, Bune. Tidak enak sama t

etangga.’
Surti merangkul suaminya erat erat, saking kuatnya bagaikan pegulat yang melumpuhkan musuhnya.
‘Ini lihat BBM berita heboh itu!’ tunjuk Surti.

Mata suami Surti minus parah. Ia melotot lotot tetap saja tak mampu melihat berita yang tertampil di layar Blackberry. Surti tanggap dan meloncat lari untuk kembali membawa suryakanta.

‘Benar juga, Bune. Keparat memang Amerika!’ seru suami Surti.
‘Ulangi kata umpatan tadi, Pakne. Pakne jadi seksi kalau berkata kasar.’ Surti gemas mencubit pinggang suaminya.
‘Amerika mempekerjakan TKW kita, kasih baju kucing hitam, buat jadikan mereka tukang cat gedung gedung tinggi tanpa tali pengaman.’
‘Yah, itulah kita Pakne. Multitalenta sih.’