Dalam perjalanan ke Bandung, temanku Brutus si pemegang kendali mobil berkisah:

‘Danie, tahu nggak kau?’ Logatnya kental Batak yang kalau belum kenal dengannya orang akan menyangka Brutus sedang marah.
‘Aku lahir dari ibuku atas bantuan Nenek Tumpuk!’ tambahnya.

Sekilat imajiku menebak nebak siapa dan bagaimana rupa Nenek Tumpuk? Pasti bidan, kubatin.

Lalu kenapa namanya Nenek Tumpuk? Apakah tugasnya bertumpuk tumpuk? Atau, ia bidan dengan anak selusin yang mereka tinggal di rumah kecil hingga tidur mereka saling bertumpuk?

‘Kalau nggak ada itu Nenek Tumpuk, aku sudah mati sama ibuku?!’ Brutus menjelaskan yang kutoleh matanya berkaca kaca.
‘Nenek Tumpuk bidan, Brut?’ tanyaku.
‘Dukun bayi, Dan! Dia siapa yang nggak kenal di kampung kami di Binjai? Semua tahu. Padahal, Dan, Nenek Tumpuk tak pernah mengenyam ilmu kebidanan! Ia hanya mengandalkan insting sama pengalaman!’

Brutus lantas bercerita panjang lebar tentang Nenek Tumpuk yang ternyata ia tak tahu arti nama dukun tua itu. Kesannya begitu mendalam sampai kuperhatikan bibirnya berkali kali melengkung tersenyum.

‘Nenek Tumpuk tak pernah pasang tarif, Dan. Ia naik sepeda mengecek ibu ibu yang hamil di kampung. Itu kata ibuku. Ajaibnya, ia bisa bantu bayi sungsang ke luar! Dokter kandungan top Medan sampai hormat padanya!’

Aku percaya Brutus meski dia Batak aku Jawa. Sudah lama kami bersahabat, ceritanya juga milikku. Dan aku jadi membandingkan zaman sekarang apakah ada tukang bantu persalinan yang tulus seperti Nenek Tumpuk? Tidak ada, yakinku.

‘Sekarang Samio anak lelakinya yang mewarisi keahlian si Nenek.’ kata Brutus parau.
‘Jadi bidan bayi juga? Asyik dong!’ candaku.
‘Tapi tukang urut. Enak juga meski jauh dari ketrampilan Nenek Tumpuk yang melegenda!’

Aku menyebutnya: Insting Nenek Tumpuk.

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com
Meribut di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta

Cerita asli: Yopie M. Batubara
Gambar: bidanshop.blogspot.com