Delicioso anjing baruku. Ia berbulu putih lembut dengan totol totol mirip Dalmation milik tetanggaku. Sekarang, aku punya teman yang kelak jadi sahabat pengiringku jalan jalan di taman.

Tahukah kalian jika nama Delicioso kukasih sebagai penghargaan baginya akan kelezatan dagingnya kata sobat Nasraniku? Ya, nama itu sangat tepat hingga aku tak harus mencicipinya, cukup dengan nama, ka

rena keyakinanku yang tak membolehkan menyantap anjing.

Kandang Delicioso kucat emas. Ini pun sengaja agar ia nyaman di dalamnya, tak mengeluh, dan manut padaku. Tak mau diriku membeda bedakan dengan burung perkutut piaraanku yang menggantung di langit langit ruang tamu. Anjing dan perkutut sama posisi dan kudu diperlakukan sama.

‘Tidurlah nyenyak, Oso!’ ucapku berbungkuk menatapnya saja karena aku belum berani mengusap tubuh Delicioso.

Ia mengangguk, buntutnya bergerak ke sana kesini, dan matanya sayu menunjukkan letihnya menuntaskan perjalanan dari toko hewan langgananku sampai rumah ini.

***

Subuh ini sangat dingin membekukan tulang. Telingaku bergetar getar oleh panggilang azan seorang muazin tua bersuara buruk diikuti kokok jago dan anehnya si Delicioso ikut pula menyalak pelan. Anjing baruku itu tak menggonggong keras seolah tahu jika itu akan jadi bumerang baginya disangka melecehkan umat Islam.

‘Oso, berlakulah sopan!’ teriakku bangkit dari ranjang dan menapak dengan kakiku seakan tersobek oleh dinginnya lantai.

Delicioso sekarang malah kalap. Aku tidak enak dengan tetangga sebelah. Darah masuk ke jantungku tak keruan. Cepat cepat aku menuju kandang Delicioso.

Seorang lelaki tingg besar berjubah putih bersih berjanggut panjang hitam ada di dekat kandang Delicioso. Ada sebuah pedang mengilat di tangan kanannya.

‘Anda mau apa, Pak?!’ teriakku memasang kuda kuda.