Apakah Tuhan salah menakdirkan kita hidup di negeri ini? Indonesia dengan segala pernak pernik yang membangunkan warganya di subuh buta. Dengan gemerisik air kali, ikan berlompatan sekadar mereka ingin menghirup oksigen berbau daun daun basah. Atau, paman petani bersiap ke ladang berbekal satu bungkus nasi dan lauk untuk dinikmati di siang panas di bawah pohon rindang. Tuhan pasti punya alasan tersendiri hingga kita berada di sini. Di Nusantara yang tak ada satupun yang tak ada. Semua dihamparkan dengan sungguh hebat.

 

Di manapun kita berada di Indonesia, dua bagian wilayah ini mempunyai cerita tersendiri. Papua dan Flores. Di ujung timur, jauh dari Nangroe Darussalam yang agamis berhukum muslim sepenuhnya, ratusan kilo dari Yogyakarta yang menuntut keistimewaan yang tetap namun pusat tak kunjung memberi kepastian. Flores dan Papua adalah cerita indah lain di belantara kekalutan negeri yang tengah membangun, bangun dari mimpi mimpi tak sedapnya.

 

Inilah kisah: Cendrawasih dan Komodo. Tentang keelokan dan ketangguhan melintasi jutaan masa. Hanya ada di negeri kita.

 

***

Komodo merasa tersanjung. Di penghujung tahun 2011, ia dibincangkan tak henti tak kurang seluruh pujian teruntuknya. Binatang purba berusia jutaan tahun, berrumah pantai berpasir mengilat, ia bermukim di daerah yang jauh dari bising seperti Jakarta. Siap dipromosikan ke pentas dunia, dikatakan ajaib, komodo menjelma calon hewan berkapasitas internasional. Dan seluruh makhluk di muka bumi diwajibkan tahu. Jika komodonya jadi menang di pemungutan suara berdasar SMS.

 

‘Dasar manusia Indonesia,’ satu komodo menjulurkan lidahnya. Liur berparasit mematikan jatuh ke tanah. ‘Kalau tahu aku mau jadi artis, aku dari dulu dandan habis. Sekarang sudah terlanjur mukaku jelek begini!’

Berjalan dengan lambat, si komodo mendekati kubangan lumpur. Menyesapnya dalam hitungan detik, ia menggoyangkan leher, perut, tak lupa buntut. Pantai di pulau komodo tinggal nyaris tak bersuara. Tenang, tak ada kekacauan. Jika pun ada sebutir kecapi yang akan jatuh, pasti seperti ia meminta izin kepada tetua komodo. Tak boleh ada keributan. Semua mengikuti gerak komodo yang luwes, seakan menikmati setiap langkahnya di pasir pantai.

‘Aku masih haus!’

Komodo menatap pohon kelapa sejarak seratus meter.

‘Wah, aku harus minum itu kelapa. Sedap betul kelihatannya!’

Badan si komodo terangkat, dua kaki depannya ia tepuk tepukkan sembari berlari cepat. Separuh perjalanan, komodopun berjalan dengan lambat kembali. Sepuluh menit, bersama satu kalajengkingnya yang muncul dari dalam tanah, komodo sampai di bawah pohon kelapa.

‘Kurang ajar!’ si komodo memekik. ‘Basah basah apa ini di kepalaku?’

Sekelebat, dengan kaokan yang merdu. Cendrawasih bertengger di dahan kelapa.

‘Siapa kau?’ komodo bertanya keras. ‘Kau beraki aku?!’

Cendrawasih bersisir. Memamerkan bulu bulu indahnya dengan paruh yang didongakkan bersama kepalanya yang kecil namun anggunnya bukan kepalang. Ia lantas mengadu jari kaki kanannya dengan sebelah kiri. Bersiul panjang, ia memelototkan mata ke arah komodo tua buruk muka. Bulu mata si cendrawasih naik turun dengan irama yang pas.

‘Aku Cindy,’ si cendrawasih mulai berbicara. ‘Kau pasti sudah kenal aku. Dari buku yang kau baca, kau mengetahuiku detail dari ujung rambut sampai kaki kan?’

‘Genit sekali kau!’ seru si komodo. ‘Aku Komodor!’

‘Apa? Komedo?’ ucap Cindy dengan suara membuai. ‘Dewa Papua, ampuni saya. Jauhkan saya dari komedo di wajah saya!’

Cindy membungkuk, mengentakkan badan hingga bulu bulunya bergetar. Seolah ia berdoa memohon bantuan Dewanya.

‘Dari mana asalmu?’ tanya Komodor.

‘Papua, Komedo.’ jawab Cindy.

‘Jangan panggil aku komedo!’

‘Lantas apa aku harus memanggilmu.’

Cindy mengeluarkan cermin. Paruhnya ia poles dengan lipstik merah jambu. ‘Cantik kan aku?’

‘Aduh, kau burung setres.’

Komodor menggaruk garuk kepalanya dengan kaki kanan sebelah muka. Tai si Cindy bercampur pasir pantai sekarang.

‘Eh Komedo,’ tanya si Cindy. ‘Tahukah kamu, di mana rumah Pak Kalla?’

‘Siapa itu Kalla?’

‘Jusuf Kalla. Je – Ka,’ jelas si Cindy. ‘Masa nggak kenal sih?’

‘Ya aku tidak tahu. Emang mau ngapain kau ama si Kalla?’

Si Cindy turun ke bawah. Mendekati Komodor.

‘Aduh bau sekali mulutmu,’ ucap Cindy. ‘Mandilah kau!’

Komodor mulai naik darah. ‘Sudah, katakan saja niatmu ke sini apa, cari Je Ka ada urusan apa?’

‘Sabar Komedo.’ Cindy mengulur sayap sebelah kanan. ‘Kita salaman. Nanti aku ceritakan tuntas.’

 

***

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta