Menyentuh bola matahari, saat telunjuk hampir tak mampu digerakkan. Berbekal nyawa tersisa, kuulurkan tangan dengan jemari yang melengkung. Tangan kanan dan kiri sudah tak berirama dalam satu otak. Panjang mereka tak sama, saling bertengkar. Kiri cemburu karena ia selalu disuruh melakukan yang kotor kotor. Kanan merasa dirinya jumawa, mendapat hormat dan ia terangkat saat bendera negeri ditarik oleh para muda di samping tiang kaku.

Matahari siap masuk ke peraduan, di gunung gunung dingin dengan asap yang menjulang. Senja ini waktuku akan habis karena esok aku pergi. Ke tempat yang entah matahari jarang menyapa kulit penghuninya. Niatku menahan laju matahari barang seperempat jam. Untuk kuputar putar di kedua telapak tanganku, tanpa lagi berkeinginan telunjuk menyentuhnya. Ya, aku memegang bola mentari.

Lalu, apakah Kyai atau Ustaz berang dengan tindakan tak normalku ini? Sementara mereka terlalu angkuh untuk mempercayai rembulan sebagai perhitungan awal bulan Islam. Bulan Ramadan, permulaan Syawal, atau shalat Id di musim haji. Pasti tatanan sirkulasi semesta terganggu ketika aku bermain dengan matahari. Bulan telat mendatangi bumi, aku yang terkena azab berupa fatwa fatwa yang memberangus pikiranku. Bukan, bukan pikiran yang menantang kuasa Tuhan, melainkan sekadar berpikir tentang hal di luar kepala para raja dan ratu berkepala surban.
Kedua kakiku menarik diri dari uluran tangan. Dan tenagaku terpusat di kaki, hingga kuurung menyentuh bahkan memegang mentari. Kuberbalik arah, kulari.

_____

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta