Ketika si Bos ke luar kota, itulah kemenanganku. Bebaslah aku menguasai kantor, menyuruh nyuruh teman kerja, berlagak seperti sang Bos. Bahagia rasanya. Di ruang kerja bos, bolehlah aku memantik api, membakar ujung rokok, mengisap asap bernikotin dalam dalam, di ruangan berAC. Sudah lama diriku memendam perasaan ini. Ingin menjadi bos, tapi lama sekali tak kesampaian. Nah, saat yang tepat bagiku. Gelar Bos dalam genggamanku.

‘Tumini, cepat bikinin kopi panas. Campur susu kental!’ suruhku ke seorang personalia.

‘Baik Pak Dani. Siap!’ jawab Tumini.

Wah, kata ‘siap!’ itu sangat seksi di telingaku. Rasanya pengin ambyar ini badan. Bos beneran diriku?

***

Kedua kaki kuangkat naik meja. Bersilangan dan kupandangi sekeliling tembok ruang kerja si Bos. Tampak foto foto keluarganya dengan setelan batik yang menawan. Juga di sisi kanan, kulihat si Bos tengah bermain salju saat bersekolah tinggi di negeri seberang. Di Belanda ia menuntut ilmu hingga di tanah air ia mencapai tataran yang berkelas.

Apakah aku bisa seperti dirinya?‘ bisikku dalam hati.

Apa yang ada dalam diriku adalah jelmaan si Bos. Pemikiranku berasal dari dirinya. Tak ada yang dikurangi juga dilebihi. Karena aku menelan mentah mentah apa yang ia instruksikan padaku. Lalu, ketika si bos ke luar kota, siapa anutanku? Hilangkah?

****

Menghambakah diriku tanpa pernah bersikap kritis padanya? Ah, terlalu rumit. Serasa diriku mengikuti sistem tanpa bisa berkreasi dengan optimal. Tapi inilah hidup yang harus diterima dan disikapi dengan sewajarnya. Jika aku menuntut pemikiran baruku menyusup ke otak si bos, bisa berantakan karirku. Ia memecatku dengan tidak pantas? Atau, barangkali aku terjebak seperti pada siklus kewanitaan yang perih dan menyakitkan?

Bos dinas ke luar kota selama 4 hari. Itulah kemerdekaanku.

_______________________

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta