Mendorong tubuh, mendekatkan telinga ke sekumpulan semut yang tengah bekerja. Mereka saling bersapa, mencium pipi, memastikan tak ada salah di antara mereka. Menajamkan rasa, membuat peka seluruh indera untuk tahu apa yang para semut tengah lakukan. Inginkah mereka membangun istana gula, membikin selimut dari daun daun kering, atau berencana membunuh satu raksasa di gunung tinggi di luar kekuasaan para semut.

Lalu aku merenung, ‘Keindahan tidak melulu dari manusia. Angin yang menerbangkan seekor anak semut dan memindahkannya ke kampung sebelah, juga keindahan.’

Tapi memang, selama ini kupingku penuh dengan kerak. Akibat ulah televisi yang menjejalkan segala rupa kebusukan. Sadar, aku sadar sepenuhnya, jika mereka menyajikan berita itu karena tuntutan uang. Mereka bekerja seperti semut semut yang sempoyongan mengangkat beban untuk ratu mereka. Dan kuli kuli tinta itu juga menghamba kepada juragan yang ketat meneropong mereka. Menagih di waktu yang sangat sempit, memonitor lewat skype semua yang dilakukan awak redaksi. Kabar paling hebat harus segera diudarakan. Dan sampailah ke telingaku tanpa hambatan. Ini yang membuatku mati perasaan. Telingaku ikut membusuk.

Kuberjalan jalan, mengamati segala keindahan. Semut sudah, selanjutnya tumpukan plastik yang berdenyut karena kompos yang siap menggerus masa hidup mereka.

________________________

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta