Dan ketika utang jauh lebih baik ketimbang sedekah, aku memutar otak. Memang betul, memberi utang adalah memberi peluang seseorang untuk kembali hidup. Bangkit dari kematian. Hari per hari sejurus menaiknya kembali si pengutang, pahala si pemberi akan berlipat lipat. Deposito paling bernyawa adalah memberikan utang.

Berbeda dengan konsep bersedekah. Ia hanya memberi dan berhenti pada satu waktu. Tak ada ikatan si penerima untuk mengembalikan. Serasa sedekah tidak terdapat kemungkinan si pemberi untuk mengontrol seberapa jauh perkembangan si penerima. Bisa jadi sasaran sedekah meleset jauh dari tujuan semula. Kesan cuek masih tampak dalam bersedekah.

Namun memberi utang juga masih banyak kelemahan. Di instansi seperti bank pasti jelas aturan mainnya: bayar tepat waktu, atau barang disita. Memberi utang muka per muka jauh berisiko. Semisal berutangpiutang dengan sahabat. Butuh kedewasaan bersikap jika tidak ingin ambyar tali silaturahim.

Bagaimana jika 50:50, utang juga sedekah? Seperti apa cara melakukannya?

-Renungan dari hadis Nabi SAW tentang betapa mulia memberi utang ketimbang bersedekah.