Perseteruan Dirjen Pajak dan importir film film asing ternyata berdampak pada bisnis bioskop. Nyaris XX1 atau 21 hanya menawarkan film sekadarnya.

Sudahlah, itu masalah tidak penting. Membahasnya hanya membuat kita tidak dewasa. Membiarkan Dirjen Pajak bermanuver, menunjukkan ketidak elokannya, adalah kebijaksanaan itu sendiri.

**

Dan ‘Catatan Harian si Boy’ menjadi pilihan tontonan. Tidak berharap muluk muluk saat masuk ruang bioskop. Kursi kursi banyak yang kosong. Setelah film usai, baru tahu jika memang CHsB tidak layak menggaet ribuan penonton.

CHsB hanya mendapat 4 bintang dari 10.
‘Tidak fokus, aneh, penuh ucapan kotor, dan dibuat buat agar pas.’

Dibuka dengan adegan kebut kebutan Satrio, diperankan dengan tak bernyawa oleh Ario Bayu, CHsB menceritakan kehidupan anak anak muda Jakarta masa kini. Bekerja sebagai montir di usaha milik sahabatnya, Nina, Satrio bersama Heri dan Andi. Titik sentral film ini memang bergelut dengan keseharian mereka.

Satrio dipertemukan dengan Natasya, diperankan oleh Carissa Putri, di kantor kepolisian. Bersama pacarnya Nico yang indo, Tasya baru saja kerampokan, mobil dibawa kabur kawanan penjahat di Jakarta. Nico babak belur.

Untung Tasya membawa ke luar sebuah diari saat ke luar dari mobil, ketika ingin menyelamatkan Nico.

*Lhoh. Aneh benar? Lagian, jerit jerit panik, lihat pacarnya dihajar perampok, masih sempat berpikir membawa diari. Keanehan muncul.

Akhirnya, Satrio dan Nico bersaing memperebutkan Tasya.

*so what? Cara menyambungkan cerita yang tidak smooth.

Agaknya sutradara ingin mengarahkan pemirsa ke diari, tapi lepas melulu. Malah ke cerita perebutan cinta Tasya.

*benar benar mendompleng nama besar Catatan si Boy yang asli.

Stres aku dibuat film ini. Sudah ndak penting lagi dibahas. Kurang sip dari segi cerita, penokohan, soundtrack, dan lain lain.