Film Jepang ini patut diacungi jempol karena berhasil menggeser kerangka pemikiran kita jika ‘kematian adalah sesuatu yang tak harus ditakuti. Justru indah.’

Berbicara Negeri Jepang banyak hal yang bisa ditelusuri. Masih memendam prasangka jika nenek moya
ng mereka penjajah Nusantara dalam tiga abad lebih? Agaknya pendapat itu seperti orang zaman batu. Terlalu kekanak kanakan. Atau menelanjangi bisnis prostutisi Jepang yang sangat marak dan seakan sudah menjadi darah bagi warganya? Ini malah lebih membuang energi, sia sia.

Jepang dengan segudang keunggulan, mulai dari teknologi otomotif atau elektronika, kemantapan ekonomi, serasa kurang lengkap tanpa menyimak film-filmnya. Pendapat orang bijak, budaya suatu negeri akan tampak nyata dari sinema yang ditawarkannya, sepertinya bisa diterima. Dan Okuribito layak dijadikan acuan untuk menilai seberapa penting peran Jepang di kancah perfilman, budaya, maupun politik dunia.

Daigo Kobayashi, diperankan oleh Masahiro Motoki, adalah pemain Cello andal. Namun kehidupannya berubah total saat orkestra tempat ia mengabdikan diri bangkrut. Sedari kecil Daigo mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Cello. Pelarian dirinya kepada Cello akibat kenangan muramnya ditinggal mati oleh ibundanya, dan perselingkuhan ayahnya dengan perempuan lain. Namun Daigo tak pernah menunjukkan kesedihannya kepada orang lain. Ia hanya menumpahkan kesedihannya melalui permainan cello atau memuaskan diri menangis di ruang pribadi di Pemandian Umum langganannya sedari kecil.

Lepas dari orkestra, ia terbata bata mencari pekerjaan baru. Hingga ia melihat sebuah lowongan sebagai Assisting Departures untuk NK Agency. Dan ia menerima tantangan itu dengan mendatangi perusahaan besar itu. Apa nyana, ternyata perusahaan itu bergerak di bidang pelayanan jasa mengurus jenazah.

Apa jadinya jika pemain cello berubah profesi menjadi pengurus jenazah?

Seni mengurus jenazah di Jepang sudah turun pamor. Generasi muda Jepang sudah tak memiliki keinginan untuk melanggengkan budaya ini. Inilah yang ingin diangkat sineas Jepang. Dan menuai berbagai penghargaan internasional. Di tangan film ini, kematian menjadi sesuatu yang layak dihargai. Perpisahan dengan orang orang yang dicintai tak harus dengan berteriak dan meraung raung menyesali kematian. Justru, di tangan Daigo dan mentornya, Okuribito menjadi seksi.

Seni mengurus jenazah sebetulnya sangat dekat dengan budaya Nusantara, Islam katakanlah. Atau di agama agama lain. Jika di Nusantara sangat pekat dengan budaya gotong royong sat memandikan, mengafani, atau mengantarkan ke pusara. Di Jepang, mengurus jenazah menjadi seni yang berharga.

Adegan adegan yang ditampilkan di film ini sebetulnya diulang ulang. Saat Daigo atau mentornya mengurus jenazah, biasa saja. Namun kelebihannya terletak dari latar belakang objek jenazah itu. Ada waria, istri seorang lelaki yang sangat dicintai, ibu ibu pengurus pemandian umum, dan yang mengejutkan di ujung cerita.

Nilai film ini adalah 7,5 bintang dari 10.

 

 

___________________

Meribut di www,andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta