Secara sejarah, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta sudah berpisah. Pemerintah kolonial Belanda dengan amat cerdas mengobrak abrik pusat kekuatan Jawa ini. Di tangan RI, selama enam dasawarsa, perkembangan dua kerajaan ini menjadi tidak seimbang.

Yogyakarta lebih beruntung. Ini karena kraton masih oleh warga dijadikan acuan dalam kehidupan secara keselurahan. Yogya dengan sumber daya yg sangat lengkap, gunung laut candi dan budaya yang kuat mengakar, sulit ditandingi Surakarta. Memang secara wilayah Yogya kalah. Tapi budaya multietnis memberi corong bermagnet bagi kedatangan wisatawan.

Bagaimana dengan Surakarta? Kekuasaan yang berpusat di Semarang dengan Gubernur yang bertanggungjawab ke pemerintah Jakarta membuat mandul Surakarta. Ditambah dengan kisah perebutan kekuasaan antar 2 pangeran, dicurinya pusaka kraton, dan kegaduhan lain, seakan mengurangi aura Surakarta sebagai pusat budaya Jawa Tengah.

Institusi pendidikan Yogya dan Surakarta adalah dua hal yang berbeda. Jauh berlainan. Industri pendidikan Yogya sangat solid. Tak bisa dikejar Surakarta.

Bagaimana mengurai masalah ini?

Surakarta menjadi ibukota Jawa Tengah? Kenapa tidak!

Semarang seolah menjadi kota yang bingung. Kota berbasis pendidikan tidak, industri juga tak maju maju. Saatnya memfokuskan Semarang untuk kota industri dan Surakarta sebagai ibukota Jawa Tengah berdasar budaya. Ini untuk menyeimbangkan laju Yogya yang sangat cepat.

Bagaimana?