‘Selamat jalan Om. Koh San.’

Doa kulepas untukmu. Ayah dari saudaraku. Di hari ini, ia menuju Tuhannya. Menjalani kehidupan selanjutnya. Setelah tugas di dunia ia tuntaskan dengan baik.

***

Aku sudah tak memedulikan latar dirinya yang Tionghoa. Tak bijak jika berpikir seperti itu. Toh Tuhan tak mencipta makhluk dalam satu bangsa. Semua lebur di hari ini, bersama kremasi yang sebentar lagi dilakukan. Kepada Koh San.

Dua anaknya yang berdarah campur, Jawa oleh Mamanya, tak mampu menahan kesedihan mereka. Si Mama berulangkali memeluk anak anaknya. Tapi kulihat mereka sudah siap dengan takdir ini.

***

Koh San, kumengenalnya sebagai pribadi yang baik. Diam, banyak bekerja, dan selalu mengajarkan kesabaran kepada anak buahnya.
‘Sing ati ati kirim barange. Yang hati hati kalau mengirim barang.’
Sering aku mendengar pesan itu di warungnya. Anak anak buahnya sangat patuh. Sampai dewasa tetap berhubungan baik dengan Koh San.
Aku menaruh hormat padanya.

***

Meski ia Tionghoa, selalulah ia berkata: ‘Makanku, hidupku di Jawa. Bahasaku Jawa. Walau badanku Cina, Jawa juga aku.’

Terlalu banyak cerita bijak dari Koh San.

Selamat jalan Om! Koh San yang bersahaja.