‘Akordeonku!’
Sorakku girang. Sudah aku tak memainkannya. Di gudang, tertumpuk oleh alat alat musik lain. Biola masa kecilku, klarinet, dan drum yang susunannya tak lengkap lagi. Tapi akordeon lah yang memberiku banyak cerita.

***

‘Nang, mainkan dengan gembira.’ perintah Opaku.
Ia mengajariku bermain akordeon. Dengan baju khasnya, bercelana ditambah sarung di luarnya, dan kopiah, membuat Opa tampak gagah. Melayu darahnya. Aku bangga dengannya.

Masa itu masih kuingat. Saat Opa sakit keras, ia masih sempat bertanya tentang sekolahku. Akordeon juga.
‘Dani gimana? Masi suka main?’
Ibu dan ayahku mengangguk. Dan kini Opa sudah pulang ke Tuhan. Aku tumbuh dewasa. Sibuk tenggelam dalam kerja.

***

Kuusap akordeon peninggalan Opa. Membersihkan sembari berujar.
‘Opaku Sayang. Jawa Oma dan Melayu Opa akan kumainkan akordeon buat kalian yang sudah di surga.

____

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta