Mario Teguh, Andrea Hirata, dan Chef Farah Quinn adalah 3 manusia yang berbeda. Masing masing punya keahlian sendiri. Mario dengan motivasinya, Andrea berceracau genit di lembaran kertas, dan Farah yang aduhai mencipta menu masakan yang memancing lidah pemirsanya. Tapi tahukah Anda, jika mereka sebenarnya satu jiwa. Saya jelmaan mereka. Tidak percaya?

Menimba ilmu lama di Afghanistan, tertempa oleh rezim Taliban, saya merasakan betapa keras hidup ini. Memang saya tak berjanggut panjang, bersurban, dengan baju kedodoran. Tidak mau saya melakukan itu. Biar tentara Taliban memburu saya, lihailah saya untuk berkelit. Masuk lorong sana sini, menembak yang kadang meleset, saya menjadi buronan. Saya bukan tidak ingin melaksanakan kewajiban a la Taliban. Tapi menurut saya itu terlalu keras untuk ukuran hati saya yang semulia Andrea Hirata.

‘Kapan kau kembali dari Afghanistan, Dan?’ tanya Naluri, teman kerja saya sekarang di hotel sebagai koki koki manis.

‘Satu bulan lalu,’ jawab saya. ‘Lewat jalur rahasia. Tanpa Visa apalagi pasport.’

‘Nekat kamu Dan!’

‘Bagaimana lagi.’

Satu yang menjadi ganjalan saya untuk minggat dari Afghanistan adalah hobi memasak saya. Di sana, sedikitpun tak boleh saya mempraktikkan ketrampilan yang saya miliki. Televisi juga disortir habis oleh pemerintah. Tak ada tontonan chef chef barat yang gemulai meracik aneka bahan. Dan saya bergembira sudah sampai dan hidup kembali di tanah air. Mengapa juga saya dahulu masuk ke Negeri Aladdin itu. Pikiranku dulu sangat emosional.

***

Kini Farah Quinn merajalela di mana mana. Semua mata pemirsa tertuju kepada dia. Saya tersulut ingin menyaingi dirinya.

Ah, Farah hanya nampilin bodi.’ batin saya. ‘Aku pasti bisa lebih dari dirinya.’

Tiap hari berlatih keras, berguru pada koki paling mantap di hotel, tak jarang lembur saya lakukan, cita cita meruntuhkan dominasi si Farah akan terwujud sebentar lagi. Namun usaha mati matian tak akan berhasil tanpa kebijaksanaan ala Om Mario Teguh. Saya selalu merendahkan hati di hadapan orang orang. Namun untuk urusan karya, saya tetap harus sombong. Jadilah cetakan jiwa saya ‘The Newest Mario Teguh’. Bijak namun tetap sombong.

***

Andrea Hirata? Oh si keriting itu? Yang selalu menampilkan Belitong, Belitong, dan Belitong? Sohib Mira Lesmana yang keriting juga itu kan? Aduh, sebentar lagi dia juga turun tahta dari dunia sastra Nusantara. Nah, sembari berlatih memasak, berbijaksana ria, saya pun menulis apa apa yang ada dalam pikiran saya. Entah itu tentang perjalanan saya berUmrah, cara memanggang daging onta yang sesuai standar SNI, ataupun segalanya. Karena target saya memang melengserkan si Andrea itu. Hanya masalah waktu saja.

‘Kau yakin, Dan? Andrea itu sudah punya pangsa pasar.’

Naluri bertanya lagi. Saya tak menganggap dia melecehkan kemampuan saya. La wong, Naluri itu juga diri saya. Saya bertanya, jawaban juga ada pada saya sendiri. Memang gila saya itu. Tapi tak apalah. Mending gila daripada saya korupsi. Capek deh, hari gini korupsi. Tuhan pasti kecewa menciptakan saya jika saya menjadi manusia bejat.

‘Apa langkah selanjutnya?’

Saya menjawab, ‘Membungkam mulutmu Naluri. Tidak usah banyak komentar. Kita lakukan saja.’
‘Siap!’

_________________

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta