Every action there is always opposed an equal reaction.’ –Sir Isaac Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica.

Hukum Newton ke Tiga ini memang luar biasa. Tak berlebihan jika Newton merupakan salah satu ilmuwan paling hebat di dunia. Waktu melintas, tetaplah hukum ini tak terbantahkan kebenarannya. Lupakan pelajaran di bangku sekolah yang mengajarkan kita untuk menghapal hukum ini. Lupakan saja.

Bagaimana jika Hukum Newton III dipraktikkan ke fenomena sosial?

Kita coba ya.

Aksi, sebuah gerakan. Jika seseorang ingin beraksi mendorong dinding, itulah aksi. Tapi, pasti ada yang menimbulkan si subjek melakukan itu.

‘Kenapa si Fulan mendorong dinding?’

Apakah ia kesal terhadap nilai ujiannya yang jeblok? Marahkan ia kepada orang tuanya yang tak membelikannya sepatu? Atau, ia ingin membuktikan ucapan Newton dengan teorinya? Membuat dinding runtuh?

Untuk kalimat terakhir agaknya kurang logis. Sebuah aksi tidak akan meloncat terlalu berlebihan untuk mendapatkan reaksi dari dinding, rubuh. Yang lebih pantas, alasan mengapa ia melakukan itu.

Dan reaksi, adalah timbulan perlawanan dari aksi. Dinding tentu berdiri kukuh tak bergerak. Membikin si Fulan sempoyongan dengan bulitan keringat menetes netes.

Agaknya yang membuat menarik adalah alasan sebelum aksi. Jauh sebelum terjadi reaksi.

****

Jika mendapati di kehidupan sehari hari, Hukum Newton III di Indonesia tidak berjalan dengan semestinya. Mengapa seperti itu?

Baiklah saya mengambil satu contoh.

‘Saya melihat seorang pengamen. Ia menukar uang recehan hasil kerjanya dengan lima puluh ribuan. Saya miris. Ya Allah, lindungi Bapak Ibu saya yang telah membesarkan saya. Amin.’

———————–

Fenomena: Pengamen berpenghasilan tinggi

 

 

 

 

 

 

 

reaksi: Iba, mangkel, berdoa

 

 

 

 

 

 

 

 

aksi: Nol (Nir tindakan lanjutan)

———————-

Jika rumus Newton menyebut: Aksi – Reaksi = Nol.

(Fenomena) –> Aksi – Reaksi = Nol (katakanlah jika fenomena dimunculkan dalam rumus ini).

Tapi di Indonesia berbeda.

(Fenomena) –> Reaksi + Aksi (nol) = Bilangan tak berhingga.

Jika aksi ini dibarengi dengan seseorang yang iba itu bergerak (aksi) untuk melakukan tindakan menyelamatkan si pengamen, agar ke luar dari lingkaran setan mengemis, itulah bijaksana.

Berbeda dengan Newton, ia telah memikirkan bagaimana aksi mendahulusi sebuah reaksi. Dalam hal ini nilai keaktifan lebih tinggi ketimbang reaksi. Wah, Newton benar benar hebat!

Terima kasih atas inspirasi ini, Sir.

 

_________

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta