Naik odong odong

Secangkir kopi buat presidenku. SBY. Di malam buta ini kubuatkan yang spesial untukmu Pak. Kepadamu yang di periode pertama kutusuk dirimu tepat di mulut, dan kedua aku enggan sudah. Tanpa gula? Kutahu Bapak tengah berdiet keras agar tidak makin membesar dan membesar tubuhmu. Mohon kopi pahit Lampung ini diterima. Tanpa sensor pengawalmu.

Pak SBY, jika malam ini kau lembur, aku juga. Pasti sibuk ya mengurus satgas satgas yang kau bentuk. Mengontrol partai demokratmu, juga mengamat amati Ibas jangan sampai lepas dari rumah. Kutemani dari Jogja sembari kutiru tiru vokal dan gaya menyanyimu. Kapan kapan kita duet ya Pak? Aku tenor, kamu nada suara yang paling rendah dan lembut.

Jangan tunda untuk menyesap kopi panas ini Pak SBY. Keburu dingin, tidak enak. Cepatlah Pak. Atau kuserahkan ke peronda yang sedang mengitari kampung.