‘Nasi goreng Jawa Pak Ndut di Monjali mantap, Dab!’

______

Dab adalah kata lain Mas. Ini berasal dari ucapan slang khas Jogja yang memakai aksara Jawa. Rumusnya sebagai berikut:

HA NA CA RA KA

DA TA SA WA LA

PA DHA JA YA NYA

MA GA BA THA NGA

Baris pertama bertukar dengan baris ketiga. Begitupun sebaliknya. Dan baris kedua saling menggatikan baris keempat. Sebaliknya juga.

Ma s : Da b

_______

Temanku berpromosi. Memang getok tular, bisik bisik menular nular antar telinga, adalah cara terampuh dalam berusaha. Entah temanku itu punya darah yang sama dengan Pak Ndut, saking gandrung dengan masakannya, sensasi nasi goreng itu menarik minat seluruh anggota grup gowes.

‘Enaknya gimana, Mas?’ Tanya seorang ibu.
Buntel, temanku yang tadi bilang tentang dahsyatnya nasi goreng, menjawab: ‘Nasinya pulen, bumbunya meresap di lidah, ayam kampungnya uenak.’

Semua mata penggowes mengarah ke buntel. Tak jarang mulut mereka ada yang terbuka.
‘Harganya murah, dan … coba saja deh.’ imbuhnya makin membuat penasaran.

‘Monjali sebelah mana je?’ Tanya pak RT berkaos hitam.
‘Monumen Jogja Kembali ke barat, ada pertigaan masuk ke selatan, seratus meter ke timur. Nah, di situ Pak.’

Memang. Orang Jogja asli selalu menyebut arah dengan mata angin. Ini membuat pendatang kebingungan. Tapi ternyata, acuannya adalah Gunung Merapi di Utara dan Selatannya adalah Pantai Laut Selatan.

‘Ntar malam kuburu!’ Ucapku.
‘Aku ikut Dan.’ Dua teman lainku bergabung.

Acara gowes selalu diselingi obrolan kuliner. Jika dihitung hitung, percuma juga mengeluarkan kalori tapi balik juga dengan kalap makannya kami. Tapi biarlah ini menjadi penyatu kami antara gowes dan kuliner.

Bersambung.