Dosen adalah juga salesman. Ia pandai berbicara, menerangkan produk yang ia punya, dan berkelit jika ada pertanyaan dari mahasiswanya yang belum ia bisa jawab. Menjual ilmunya yang seiprit, menawarkannya, dan tak malu untuk terus belajar. Karena ilmu adalah perkembangan itu sendiri, dosen menjadi subjek yang tak terbantahkan.

Bagaimana jika saya dosen teknik sipil?

Anda pasti terenyak. Saya pun tak kurang seperti kaki tak menempel di tanah. Tak percaya, tapi inilah kenyataan. Jika mengenal diri saya dalam tulisan tulisan absurd, yang sok sok mengaku sastrawan, Anda beranggapan benar. Sipil memang latar belakang ilmu saya. Menjadi dosen teknik sipil, apakah ini kutukan? Oleh orang orang yang saya pernah cela dengan kritik saya? Atau, berkah sekaligus anugerah?

Saya bukan termasuk canggih sebagai penghitung berapa jumlah baut pada kuda kuda. Karena saya bukan tukang. Untuk merencana rumah, pasti saya kalang kabut bertanya ke sana kesini. Pula tak jarang saya gemetaran jika ada yang ingin memesan gambar teknik. Seperti gunung menimpa diri saya. Semua di atas bukan keahlian saya. Karena saya, teknik sipil hidro. Ya, keairan. Waduk, bendung, pantai, lingkungan, apa apa tentang air saya menyukai mereka. Tidak untuk struktur. Nih teman sebelah saya lebih jago.

Sekali lagi, ilmu adalah dinamis. Siapa yang mau terlibat dan berada dalam perputarannya, aktif mengisi dan memejalkan ilmu, bisalah ia dianggap dosen. Mengapa saya memakai kata ‘pejal’? Karena ilmu berbentuk ruang kosong, yang udara ada di sekitarnya, berselaput, dan benar benar harus diisi. Silakan siapa saja boleh menuangkan apa saja. Ilmu adalah humanisme.

Apa yang spesial dari saya?
Tak patut bertakabur. Tuhan lebih hebat dari saya. Baiklah saya akan jujur. Menulis adalah senjata saya menjadi dosen. Itu saja. Karena saya yakin, dosen adalah penulis. Meski saya sekarang penulis fiksi, tak ada salahnya menggeluti tulisan tulisan ilmiah. Memang agak sukar, tapi ada jalan. Bermain tic tac, mengolak alik otak, mengaktifkan kanan kiri ataupun tengahnya. Tak ada ragu untuk mencobanya.

Selamat buat kita.