Di negeri tanpa kaca, aku tak bisa menatap lekat wajahku. Air telaga keruh, plastik plastik mengilat tembus pandang tak mampu mereka memantulkan bayangan ke mataku.

Kuberjalan semampuku. Bertanya tanya kepada ia yang berpapasan denganku.
‘Hai Pak. Keren kan diri saya?’
‘Bu. Pasti Anda mengagumi saya ya?’
Mereka kecut. Tak berkata, meluncur dengan langkah kaki setengah setengah. Cepat, tak mau waktu menelan tubuh mereka.

Di negeri tanpa kaca, kumengais siapa yang menjadi cermin. Bertahun tahun tak ada seseorang itu. Ia yang menjadi anutan, berkata jujur tentang kesalahan juga ksatria yang gagah meski tak menunggang kuda. Semua yang ada di negeriku sibuk. Membiarkanku mencari cari ia yang bisa membimbingku. Kepada saudara saudaraku pula.

Kaca memang tak ditemukan di negeriku. Cermin pemimpinku tak ada.

Atau, kaca itu adalah diriku sendiri?