Lelaki tua itu telah tak berTuhan. Di ujung masanya, yang sebayanya membungkuk bungkuk memohon ampun, ia justru meletakkan dasar dirinya. Meninggalkan agama, menjadi ateis.

Bukan ia tak puas dengan kinerja Tuhan padanya. Segala limpahan sudah ia miliki. Dunia di sekelilingnya. Ia hanya ingin menaruh jiwa berikut tubuhnya lebih pasrah. Tuhan bagi lelaki yang masa kecilnya gemar mengaji itu adalah candu yang menakutkan. Bayangan akan neraka, murka Tuhan yang bengis, selalu membuat ia berpikir:
‘Apakah Ia yang kuanut punya dua muka; kejam dan welas asih?’

Tak banyak yang tahu. Karena lelaki itu pandai menyembunyikan perasaannya. Selalu jika ada yang bertanya mengapa ia tak pernah naik langgar, jawaban meluncur ‘nanti saja’. Dan orang akan capai sendiri. Toh pahala terkadang menjadi ladang rebutan. Tidak harus diembus kencangkan cerita ini.

***

Tak berTuhan membuat hati lelaki itu resah. Biasa mengambil wudlu, sekarang tidak lagi. Mondar mandir di depan kamar mandi, ia pun tertarik pada gayung.

‘Pasti ini Tuhanku!’
Ia bersorak. Merasa menemukan apa yang ia yakini mampu memuaskan pertanyaan dalam dirinya. Kemelut batinnya.

‘Gayung ini selalu di atas kepalaku. Memberiku guyuran air. Lebih dari wudlu yang hanya kucuran.’

Lelaki itu beranggap. Dan memang, setiap hari ia membeli gayung. Hanya satu warna, biru.

‘Aku bebas memilih gayungku yang banyak. Tuhanku mereka.’

Pamer, menunjuk pada kumpulan gayung hijau, lelaki itu berTuhan.

Sementara, bersambung.