Masuk kembalinya film Hollywood, setelah masa berpura pura Dirjen Pajak, sejatinya kerugian mutlak buat perkembangan perfilman tanah air. Semua tahu jika film selalu membawa unsur penyusupan pemikiran. Selain tentu ia menawarkan nilai nilai universal yang baik.

Memang, ada berbagai sudut pandang menyikapi kasus ‘ke luar masuk film Hollywood’. Lupakan sementara kepentingan Dirjen Pajak yang jelas menunjukkan ketololan mereka. Apa yang musti kita simak, kritisi, untuk selanjutnya bersikap?

Pertama, Hollywood adalah gurita. Di situ diproduksi film film super canggih. Animasi yang sudah kelewat jauh dari imajinasi anak negeri. Drama pun mereka menyajikannya mengharu biru dan sangat dalam. Hollywood meninggalkan, melesat, tak mampu lagi putra putri Indonesia sekadar mengikuti ritme mereka. Kita berabad abad tak bergerak, tak bisa menghasilkan film bermartabat, tak menemukan ciri, dan uniknya kita justru diam. Masuknya Hollywood selain berefek positip, memancing sineas kita, juga membuat persaingan tidak seimbang. Gelontoran film asing jika tidak disikapi dengan karya sendiri menjadi bumerang. Film tanah air kolaps.

Pelajaran kedua. Hollywood merajai pasar berarti siap siap tunggal dalam berselera. Memang, banyak pilihan menentukan film acuan dan hiburan dari negeri seberang; Korea yg tengah boom, Mandarin, India, yang bebas dijual dengan format bajakan. Tapi bungkus adalah bungkus. Jika industri film kita ibaratkan kado, tetap Hollywood tampak luarnya. Orang akan takjub dahulu. Padahal ada isi paling mendasar. Juga ada film tanah air di situ, yang harus kita selamatkan.

Agaknya, berpikir ekstra bijaksana harus diambil saat ini. Hollywood penting. Tapi mencari solusi perfilman tanah air jauh lebih mendesak. Semoga kita bersatu dalam hal ini.

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta