Ini tentang sepasang sepatu. Pemberian Bundaku lima tahun lalu. Meski sudah tersimpan di lemari, tetaplah ia memberi cerita buatku. Menjadi sepatu tertangguhku. Menemaniku di kala hebat dan terpurukku.

Eagle. Elang, bukan Adidas Reebok atau Nike yang terkenal. Kata Bunda begini:
‘Nang, ibu ndak bisa beli yang mahal. Ini saja buat sekolahmu.’
Aku mengangguk dan mengucap terima kasih. Tapi rasa itu baru kurasa sekarang. Saat Bunda sudah menemui Tuhan.
Batinku berseloroh, ‘Tuhan. Bingkiskan sepatu termahal dan terbaru buat ibuku. Biar ayah senang menemui ibu.’

Alas karet Eagle ku menipis. Gesekan dengan aspal, konblok, dan bebatuan yang membuatnya. Jujur, aku jarang mencucinya. Tapi itu tak menandakan aku tak sayang lagi pada Bunda. Karena kesibukanku. Jemur tiap minggu, cukup menghilangkan bau. Ditambah kamfer, masalah rampung.

***

“Di masjid, siswa SMA mencuri sepatu. Dimassa babak belur.”

Berita Kedaulatan Rakyat. Muka si pencuri muda tak tampak. Ia ditutup, seperti pesakitan makar bom. Andai aku kenal dirinya, pasti Eagle ku kasih. Biar dibuat olahraga. Tidak menjadi pengutil.

Aku anggap hal itu biasa. Koran saja yang melebih lebihkan, mencari duit. Memang itu tujuan mereka.

***

Eagle ku segera berganti. Merek apa sebentar lagi kuputuskan.