‎​Tujuh tahun Ijah mengabdi ke Mahmud, majikan Arabnya. Sejatinya, ia sudah hampir dinaturalisasi menjadi warga sana. ‎​Tapi tetaplah Ijah bijaksana mencintai Indonesia apa adanya. Ia kembali ke tanah air dengan ikhlas. Meninggalkan Arab, yang telah menjadi negeri keduanya.

Mau tahu kisah heroik Ijah di Negeri Berpasir dan Berbrewok, Arab?

‎​Di Arab, Ijah bekerja di peternakan onta. Karyawannya dari 5 negara, Bangladesh Filipina India Pakistan dan tentu Indonesia diwakili Ijah. Mereka rukun. Bahu membahu. Dan Ijah dapat jatah memerah susu onta.‎​Onta onta di tangan Ijah menjadi penurut. Entah karena ia memiliki sifat welas asih, atau karena susuk.

***

‎​Arab panas.
Gerah.
‎​Kerongkongan dan lidah Ijah pahit. ‎​Seketika, kesulitan itu ditangkap si majikan sebagai ide menarik. Jadilah mereka membuat pabrik es krim onta. Dan, saking larisnya, permintaan membludak, susu onta di peternakan sudah tidak memenuhi permintaan pasar. Dari padang pasir satu ke lain. Mencorongkan toa toa, memanggil warga yang memiliki onta untuk bersukarela membantu.

‘Onta satu, seribu dolar.’ Seru majikan Ijah.

Memang aneh. Meski sang majikan berstatus duda, tapi kemurniaan Ijah tetap ia jaga. Tidak seperti majikan lain, Mahmud sangat menghargai Indonesia. Ia menganggap Ijah adalah anak didiknya. Diajari oleh ia membaca Al Quran, memahaminya, dan menjahit baju muslim.

***

Tapi kedekatan itu membawa fitnah. Bukan oleh karyawan lain. Pesaing Mahmud. Disebut peternakan burung onta. Padahal jelas, mana burung mana mamalia. Dan juga, Mahmud dikotorkan namanya menjadi penganut ajaran jin hingga usahanya maju pesat.

Bersambung.