Menandang pantat dosen kejam. Karena ia mengajarkan teori yang tak masuk di otakku. Menjejalkan berbagai rumus yang bagaikan ayam diloloh paksa bekatul. Rasanya ingin teriak. Mengumpat langsung di depan si dosen reseh. Satu jam hanya dia yang nyerocos. Tanpa memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengungkapkan ide.

Ini menurut pemikiranku. Sekadar pengungkapan kekesalan. Aku beride: Separuh waktu si dosen menularkan kepandaiannya, selebihnya kami bermain. Bermain kata kata, bertanya ini dan itu. Bolehlah di luar topik. Karena aku yakin, ada hubungan yang tak linear antara ide gila dengan konsep paten keilmuan. Cara menggabungkannya itu hanya bisa didapat dengan komunikasi cair, cerdas, tanpa harus meninggalkan tata krama. Nah, ini yang ingin aku ungkapkan ke si dosen. Tapi … ini guru cenderung seperti Raja Lalim. Tak memberi kesempatan mahasiswa untuk bertanya. Ia mungkin beranggapan, murid berucap adalah awal dari makar. Susah memang kalau begini.

Kepalanya botak. Tak ada rambut sehelai pun di batok. Matanya berkacamata tebal. Jalannya terhuyung huyung dengan buku buku digamit di sisi badannya. Dari cara berpakaian, aku rasa masih bagus. Tak berkesan jorok kucel seperti para profesor yang tak memikirkan pribadi mereka. Si dosen bawel di depan kelasku modis. Cuma ya itu. Sifatnya yang konservatif kuno dan kolot membuat mati kutu para mahasiwa.

Timbul niatku untuk mengerjai dia. Memanfaatkan harga kartu perdana yang murah. Aku kirim SMS mengaku bagian pengajaran. Bilang kalau perkuliahan si dosen kejam itu dibatalkan seluruhnya. Karena sudah ada dosen pengganti. Begitulah yang akan aku lakukan.