UFO turun di Jogja. Di malam senyap, saat warga tidur sangat pulas. Suara pesawat tak berisik, pelan saja. Turun di Lapangan Kridosono di pusat kota. Mahasiswa tak ada yang lembur bikin tugas, dosen dosen teler sudah kecapaian mengajar seharian. Jogja adalah persinggahan terbaru para alien. Setelah bosan di Amerika dan Inggris. Alien muak karena warga di dua negara itu telah melenceng dari kesepakatan yang telah dibuat.

Dua alien turun dari pesawat. Jika Anda beranggapan rupa mereka sangat mengerikan, salah besar. Mereka ternyata sama dengan kita. Hanya benar, warna kulitnya hijau. Tapi jika banyak yang menyebut alien berkepala besar, bermata lebar, bertabiat merusak bumi. Agaknya isu itu disebar oleh Amerika dan Inggris. Inilah yang menjadikan para alien tak lagi menaruh kepercayaan kepada mereka. Padahal jika kau tahu, mereka sangat baik. Menawarkan kerjasama teknologi dan memajukan peradaban galaksi alam semesta.

Bulan purnama. Dua alien mengendus suasana Jogja. Aman. Sultan pasti sedang istirahat, begitu mereka berpikir. Angin malam basah, seharian hujan. Tapi memang mengejutkan, setelah hujan tiba tiba bulan purnama. Jogja istimewa memang seperti itu. Yang ada di logika, buyar seketika setelah bersinggungan dengan Negeri Mataram. Satu alien memakai kebaya, yang satu beskap Jawa banget. Tak kalah dengan Obama dan Michele, dua alien berbusana menyesuaikan dengan daerah yang dikunjungi mereka.

***

‘Bang, kita sudah sampai di Jogja.’ Si Cewek berkata sambil memainkan kipas untuk mendinginkan tubuhnya.

‘Iya, kotanya adem kelihatannya ya.’ kata si Cowok. ‘Kita tadi sudah muter muter di atas, cuma satu dua pabrik.’

‘Bener Bang. Memang sih, radar kita munculin warna item tanda limbah. Tapi Cuma sedikit. Beda ama Amerika Inggris keparat itu.’

‘Sudah sudah. Kita ga usah dendam ama mereka.’ Si Cowok menahan amarah koleganya.

‘Gimana ga emosi aku, Bang.’ Wajah alien cewek tampak emosional. ‘Kita sudah bikin janji. Ilmu udah kita kasih jor joran. Eh, mereka depak kita setelah puas.’

‘Pelajaran buat kita, Dik. Cari teman harus hati hati.’

‘Oke Bang. Barangkali orang orang Jogja ga kaya Amerika Inggris yak Bang!’

‘Mudah mudahan.’

***