Memperjualbelikan bahasa. Meminjam berlebihan kosakata dari negeri asing, tanpa menaruh kepercayaan kepada bahasa lokal. Kosakata asing ditawarkan dengan obral berdalih memperkaya bahasa. Menampilkannya dengan bombastis penuh pikat, dengan harga sangat terjangkau. Berseloroh jika warga yang mengucapnya akan berkesan seksi. Dan ajaibnya, khalayak menyukai dengan gegap gempita.  Malangnya, bahasa daerah seakan menjadi bisul yang siap meletus. Ia menunggu antrean sangat panjang untuk sekadar dilirik oleh Jin Penunggu Kamus Besar Bahasa Indonesia: KBBI.

 

Lelaki paruh baya lulusan negeri seberang. Berperawakan tambun, gemar bercerutu, berkena jas berdasi cerah. Masuk ke luar kantor menenteng kopor. Menyelinapkan buku buku kotor, berbahasa buruk, di depan pintu para penguasa pabrik. Selanjutnya memeriksa di esok hari, apakah bahasa si target sudah berubah sesuai harapan. Alih alih berpromosi tentang elegan bahasa nasional, si lelaki merusak dengan amat sadar.

 

Ciri mengabur, bahasa musnah. Berganti gerusan yang campur baur tanpa intisari. Inikah perkembangan baik? Atau, sepuluh dua puluh tahun kita melesak ke bumi kebingungan menerjemahkan siapa diri kita.

 

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di www.facebook.com/Dannie.Travolta