Tertinggal di Tokyo. Pesawat tak mampu menampungku. Semua teman kuliahku sudah sampai di tanah air. Meninggalkan Jepang yang kini morat marit diterjang tsunami. Belum lagi mereka paranoid kuatir terpapar radiasi. Namun, aku memilih untuk bertahan di Tokyo. Kota yang sudah sangat berbaik hati menampungku. Jika aku lari, mengikuti sekadar anjuran pemerintah, pengecut sebutlah diriku. Kini bersama warga Tokyo dan Jepang, bahu membahu membersihkan puing puing. Aku belajar pada kebesaran hati warga di sini. Karena hatiku sudah tertambat oleh pribadi pribadi yang tak pernah mengeluh. Selalu bergerak mencari solusi.

 

‘Nang, muliha. Pulang, Nak!’ perintah ibu di kampung.

Seluruh keluarga di tanah air panik. Dari ujung telepon, kudengar tangis mereka yang tak henti henti. Hatiku miris, tapi kujelaskan pelan pelan. Jika pilihanku ini tak memberi risiko yang besar. Toh, pemerintah Jepang berinstruksi dengan jelas. Semua bisa ditangani sesuai prosedur keamanan. Tidak kuatir adalah kunci dari semua ini. Melalui ujian bersama sama.

‘Ibu Bapak. Mas di sini baik baik saja,’ izinku dengan nada tertata. ‘Mohon doa Ibu Bapak dan keluarga.’

‘Ya wis Nang. Ya sudah Nak. Hati hati di situ,’ pesan ibu. ‘Kalau ada apa apa, kirim kabar. Segera telpon rumah.’

 

Jaringan telpon sudah bisa digunakan beberapa jam setelah tsunami menghantam. Takjub diriku dibuat oleh orang Jepang. Raut muka mereka tak ada yang tampak bersedih. Semua biasa saja. Berkendali. Kalaupun ada sanak kadang yang tewas terbawa arus, mereka menganggap itulah hidup. Mati dan hidup berjarak tipis, begitu yang mereka pernah ucapkan.

Tokyo, Jepang, dan kota kota di Negeri Matahari Terbit yang memberiku banyak pesan. Jika hidup tak akan pernah lepas dari tantangan. Yang harus ditaklukkan. Dengan sepenuh jiwa menerima semua takdir sejalan dengan usaha keras untuk mengubahnya menjadi lebih bermakna.

 

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di www.facebook.com/Dannie.Travolta