Rentetan musibah di berbagai penjuru dunia, sebetulnya pukulan amat telak bagi mahasiswa Indonesia penerima beasiswa di luar negeri. Pergolakan politik di Mesir dan Timur Tengah, tsunami Jepang, resesi Amerika Serikat dan Eropa yang tak kunjung berakhir, seakan memberi isyarat jika posisi mahasiswa Indonesia sangat rentan. Ditarik paksanya mereka oleh pemerintah menjadi persoalan menarik sekaligus serius untuk dicermati.

 

Jika berpikir mahasiswa penerima beasiswa luar negeri akan belajar tekun di negara orang, sangatlah benar penilaian itu. Berharap sumbangsih mereka agaknya sangat masuk akal, mengingat perkembangan ilmu pengetahuan di Negara Barat beberapa tingkat di atas institusi pendidikan Indonesia. Barat telah berhasil menjadikan ilmu sebagai industri yang tidak berhenti pada riset. Mereka dengan sangat bijak memosisikan hasil penelitian sebagai asupan bagi kemajuan industri. Hasil riset oleh pengusaha akan diwujudkan secara komersil sehingga berujud laba. Itulah yang musti dipelajari oleh mahasiswa ekspor tanah air. Mahasiswa penerima beasiswa luar negeri.

 

Apa yang terjadi sekarang?

Ditawar ataupun tidak, arah tujuan mahasiswa tanah air ke luar negeri sudah bergeser jauh. Mereka lebih mementingkan mencari gelar, menaikkan gengsi pribadi, dan tak jarang hanya mengejar kepuasan naik jabatan sepulang ke tanah air. Jika kita boleh membandingkan dengan para perintis berdirinya bangsa, aroma pergerakan politik generasi sekarang bisa dikatakan telah hilang. Dahulu, mahasiswa yang bersekolah di luar negeri memikirkan bagaimana sebuah negara merdeka dengan bermartabat. Jarak dari tanah air tak menghalangi mereka untuk urun rembug mencari solusi bebas dari belenggu imperialisme dan perbudakan.

 

Sekarang, kena gempur tsunami saja sudah meraung raung ketika tiba selamat di bandara tanah air. Memang sangat wajar ketika ajal hampir saja merenggut, rasa takut menguasai diri. Namun, apa yang ditunjukkan di televisi sungguh memprihatinkan. Seolah mahasiswa sekarang sangat rapuh, tidak menyadari jika ia bersekolah di luar negeri bermakna menanggung risiko. Alih alih membantu korban bencana alam di Jepang, mereka menyelamatkan diri seperti pengecut sembari berharap Jepang segera pulih dan mereka kembali dengan enaknya. Di sini, rasa ketidakadilan berseberangan dengan saat di mana mereka menyisihkan kompatriot pencari beasiswa.

 

Lain di Mesir. Universitas Al Azhar yang kabarnya menghasilkan intelektual Islam paling moderat di seluruh jagad. Saat rezim Mubarak tumbang, sama saja mahasiswa seperti kerasukan iblis ketakutan jika bom meledakkan tubuhnya. Dan berlindunglah mereka di ketiak Kementrian Luar Negeri yang seakan memanjakan mahasiswa Indonesia dengan sangat anggunnya. Keberanian seorang pemikir yang diharapkan dari cetakan Universitas Al Azhar tak menguar sampai ke tanah air. Sangat mengenaskan.

 

Untuk saat ini, tak perlu berharap terlalu berlebihan dengan kapasitas mahasiswa beasiswa luar negeri. Mereka terlalu sibuk dengan foto foto yang dikirim ke tanah air, menyajikan cerita membuai yang tak menggairahkan dan melecutkan semangat mahasiswa lokal. Baiklah, jika itu yang disalurkan oleh mereka, bisa jadi mahasiswa bertaraf lokal akan menggemparkan dunia dengan apa yang dimilikinya: kebijaksanaan. Tentu dengan lecutan sains yang pelan tapi pasti akan segera direngkuh. Kita bersaing dengan adil. Tuhan merestui mereka yang dengan gigih berniat membangun negeri berdasarkan ketulusan. Tidak semata berbekal made in western.

 

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta