Penampilan brilian Colin Firth sebetulnya segelintir dari kesuksesan ‘The King’s Speech’. Lebih dari itu, film ini sarat dengan pesan politik yang menunjukkan Inggris masih menjadi kekuatan super di jagad.

Siapapun tak bisa menyangkal jika Inggris memiliki koloni lebih dari seperempat jumlah negara di dunia. Dan ini berarti, pengaruh Kerajaan Inggris Raya masih kuat dan sulit ditandingi oleh persemakmuran negara manapun. Ditambah dengan Amerika Serikat yang menjadi sekutu abadi dan anak emas, kepentingan politik dan ekonomi Inggris seakan aman aman saja.

 

Tom Hooper sebagai sutradara jenius membidik pangsa pasar. Menyajikan kisah Raja George VI yang gagap, diramu dengan sangat memesona, akan menyihir seluruh penggila film di dunia. Minimal penonton di Negeri milik Ratu Elizabeth II. Dan cerita ini seolah menggali hubungan batin Negeri Inggris dan Australia sebagai bekas jajahannya, yang jika jujur sebenarnya garis komando masih dipegang di London.

 

Adalah King George VI dan Dr. Lionel yang memerankan pengaruh kuasa raja Inggris dan Australia. Sontak penjualan tiket ‘The King’s Speech’ di Benua Kanguru melejit. Begitu juga di Selandia Baru, berikut Kanada dan lain lain. Efek promosi film ini sungguh luar biasa seperti saling berkaitan. Konflik dua pemeran ini seakan mewakili hubungan aktual Inggris dan koloninya.

 

Ramah, berkait, dan humanis.

 

Pernyataan seorang bijak, tunjukkan dirimu melalui film, agaknya bisa dibenarkan. Film menjadi alat paling ampuh untuk menampilkan kekayaan sebuah negeri. Jika perfilman negara tersebut mandek, bisa dikatakan macetlah segala komunikasi.

 

The King’s Speech memberi pelajaran kepada kita bahwa pengaruh itu dibentuk, dikreasikan, dan dipromosikan. Tidak berdiam dan berharap seorang Mesiah muncul di Bumi Nusantara.

 

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta