Hanoman bersarung putih. Berada di antara jamaah shalat Id. Ikut merayakan Hari Lebaran, bergabung kepada mereka yang mau menerima dirinya. Hanoman, seekor monyet berbuntut panjang, yang baru saja masuk Islam. Meninggalkan kepercayaan asalnya.

Ibu ibu berteriak. Melengkingkan kalimat Tuhan.
‘Ya Allah. Ada monyet di sini!’
Yang lain berucap. ‘Astaghfirullah. Bisa bisanya monyet dibolehkan masuk ke masjid.’ Seorang bapa berprotes.

Hanoman melenggang saja. Tak menuruti perkataan dua orang tadi yang beraroma melemahkan kekuatan. Monyet sakti itu mencari shaf kosong. Barangkali ada. Dan ada. Di tengah sendiri. Ia harus melangkahi para bapa, beserta anak anak mereka, meminta diri, dan duduk mendengarkan celoteh sang Kyai. Khotbah sedang disiarkan oleh pemilik kedaulatan masjid, penjaga moralitas kaum: Kyai Markum.

Telat sampai masjid. Hanoman tidak sempat mengikuti shalat Id. Ia kesiangan. Semalam suntuk ikut takbir keliling bersama para muda, yang lebih menerima kehadirannya sebagai pemeluk baru agama Islam. Menurut Hanoman, kemeriahan seperti ini tak dijumpai dia saat berada di Kerajaan Kera. Marak sekali di Indonesia ini. Di tempat sebelumnya, semua diam. Menunggu perintah sang Raja. Jika tak ada pekerjaan, para monyet diwajibkan tidur. Dan bila lembur diharuskan untuk menyelesaikan tugas, bisa tiga hari tiga malam tak boleh memejamkan mata barang sebentar. Lebaran di Indonesia adalah kemeriahan. Berpesta pora. Mudik, balik ke kampung halaman, menemui sanak saudara, berbagi cerita. Itulah yang disuka oleh Hanoman.

Kyai Markum berbicara di mimbar dengan penuh semangat. Hanoman menatap sebagian orang tertunduk, entah khusyuk mengucap zikir atau tertidur. Pulas. Di sebelahnya ada dua anak kembar.
‘Mas. Kok tanganmu berbulu. Badanmu banyak bulu?’ Kembar 1 bertanya.
Hanoman tersenyum.
‘Iya nih. Kaya monyet Mas ini.’ seru Kembar 2.
Empat mata kembar menatap lekat lekat si Hanoman. Seolah tak percaya jika Tuhan juga menciptakan makhluk berlainan dengan diri mereka. Terkadang telapak tangan si kembar mengelus tangan Hanoman. Dibiarkan Hanoman. Tak ada salahnya membuat anak anak senang. Tak perlu menghardik langsung pada si bocah. Biarkan imajinasi mereka berkembang, tanpa harus dipasung. Yakinlah mereka akan puas dengan jawaban yang sebetulnya sudah mereka punya sedari pertanyaan ‘Monyetkah Anda?’ bergelayut di dalam pikiran mereka.

Pikiran anak anak tidak sama dengan dewasa. Mereka lebih sederhana, para tua lebih kompleks karena sudah bercampur dengan problema, bergulat dengan bagaimana mendapatkan solusi. Anak anak adalah jiwa bebas. Menahan pendapat mereka tak ubahnya mematikan dan melumpuhkan semangat anak anak untuk mencari.

Di depan, Kyai Markum tampak sudah kecapaian. Suara yang menggelegar di awal khotbah, perlahan melemah. Volumenya lirih. Dan ia segera mengakhiri khotbah pertama, untuk berdoa bersama sama dengan jamaah Shalat Id. Bersama Hanoman, sang Baru.

‘Ya Allah, ya Tuhan kami. Di hari ini, kami memohon ampun atas segala khilaf kami ….’
Suara Kyai Markum terhenti. Terbata. Dan ia melanjutkan.
‘Maafkan anak anak kami yang nakal. Sering berantem. Tunjukkan jalan kepada ibu ibu yang suka bergosip di ujung gang ….’ Doa Kyai Markum menjurus ke aneh.
‘Berilah Bapak bapak di kampung ini pekerjaan yang layak, menghasilkan duit banyak. Sehingga ibu ibu tidak sering marah.’

Jamaah sontak kaget. Tak biasanya Kyai Markum berkata seperti ini. Namun karena kharisma sang Kyai yang terlampau bersinar, jamaah pasrah dan … meng-amini.

Hanoman ikut pula mengangkat tangan, menengadah, memohon kepada Dewa … oh bukan … Allah yang Maha Pemberi Jalan.

Di hari fitri. Idul Lebaran.

Hanoman bersalaman dengan para warga.

 

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com