Bercermin. Membalikkan tubuh, memutar kepala untuk tahu apakah si punggung baik baik saja. Tak ada jamur, atau bekas luka. Jika bagian muka tubuh tak jadi masalah, belakang menjadi pertanyaan paling mendasar.
Si Bongkok berkata, ‘Cemburu aku padamu.’
Seketika kutata kembali bajuku. Biar badanku tertutup. Oh, si Bongkok merasa tersindir. Aku tak bermaksud memberi pelecehan kepadanya. Sungguh. Bersumpah hanya membuatku tampak bodoh di hadapan si Bongkok.
Lalu aku menjawab, ‘Aku hanya bercermin Bongkok.’
‘Sudah sering kukatakan, gantilah namaku dengan yang lain.’ Ia menundukkan muka, menangis. Air matanya jatuh ke tanah. ‘Kau malu dengan keadaanku ini.’
‘Bongkok itu panggilan sayangku padamu’ ucapku.
‘Tapi aku tak nyaman.’
Kami pun larut dengan pertanyaan yang terus mengganggu.

***

Bongkok adalah saudara tiriku. Lain ayah, satu ibu. Ayah kami meninggal dengan sebab yang tak jelas. Ibu bercerita, mereka diamankan oleh polisi yang jumlahnya banyak. Di malam hari. Lalu, aku dan bongkok bertanya waktu itu:
‘Ibu, kenapa ayah diamankan?’ tanyaku tentang ayah kandungku.
‘Ayahku juga Ibu?’ Bongkok bertanya juga tentang ayahnya.
Menatap langit langit rumah, Ibu menata perkataannya.
‘Anak anakku. Ayah kalian sudah senang di sana.’ Jawabnya.
‘Senang bagaimana Bu?’ tanya Bongkok.
‘Kalian terlalu kecil untuk tahu. Nanti setelah dewasa, ibu akan menjelaskan pada kalian.’
Kami tidak puas. Terus mendesak agar ibu menceritakan yang sesungguhnya. Dan, seiring besarnya aku dan Bongkok, kami tahu jika ayah kami musuh pemerintah. Dibunuh untuk menyelamatkan muka penguasa. Ayah kami punya kartu mati untuk menjebloskan para korup di negeri kami. Sejak saat itu, isu menyebar ke seluruh kampung. Jika ayah kami adalah penjahat negara. Bongkok yang sangat terpukul. Dengan kondisinya yang seperti itu, gonjang ganjing tentang ayah kami menjadikan dia terus malu.
Pernah suatu hari, seorang anak kecil berseru kepadaku dan Bongkok.
‘Heh anak haram. Ibu kalian kawin dua kali. Semuanya dengan penjahat!’ ia lalu lari meninggalkan kami.
Jika kami tidak sabar, kami kejar itu bocah untuk membungkamnya. Tapi, ibu sudah mewanti wanti kami untuk berlaku bijak. Tak semuaa orang memahami dan tahu. Yang hanya bisa dilakukan adalah pasrah kepada sang Esa. Waktu akan menjawab dengan semestinya.
(bersambung)
***
Meribut di http://www.andhysmarty.multiply