Satu gadis memuja Pohon Sakura. Jika musim semi tiba, bunga bunga bermekaran, ia selalu siap sedia di taman. Menyanjung sakura, mengamatinya lekat lekat, lalu memetiknya melompat dengan tangan si gadis yang panjang. Setelah dapat, setangkai bunganya disayang sayang sambil diajak mengobrol.
‘Oh, Sakuraku yang manis,’ jemari lentiknya mengelus kelopak Sakura. ‘Sudah setahun kutunggu. Kini kau hadir juga.’

Jepang bersuhu tengah tengah. Tidak panas, dingin tak menusuk tulang. Baju baju yang dipakai pejalan kaki tak tebal. Tapi memang leher mereka dilingkari syal. Derap sepatu mereka bersamaan dengan jatuhnya bunga bunga sakura yang tak kuat menyatu dengan dahan.
Gadis Pemuja Sakura duduk di bangku taman. Meletakkan setangkai sakura, ia mencatat menulis di buku hariannya.

Bunga Sakura yang kusayang
Kuambil, tak untuk kutendang
Baumu sungguh merangsang
Menimbulkan bayang bayang

Sampai sore, begitu dan terus begitu. Mencinta, lalu balik ke rumah untuk diberitahukan ke Ibunda.
‘Ibu, aku telah mencinta ….’ seru si Gadis Pemuja Sakura
‘Bagus Nak. Kau mulai dewasa.’ ucap si Ibunda.

Meribut di http://www.andhysmarty.multiply.com