Menganggap Negeri Adikuasa secara serampangan, jika ia adalah pusat teknologi, tempat bermula segala Rennaisance, agaknya perlu dipertimbangulangkan. Amerika Serikat jauh dari yang seperti kita pikir. Di sana banyak juga gelandangan, kecoa tetap ada, tak kalah penting legenda yang dipikir pikir bisa dikatakan tak logis. Di Negeri Paman Sam, masih saja ada cerita primitif seperti di Indonesia.

Mau tahu apa itu?

Tak perlu seluruhnya ditunjukkan. Tak cukup catatan ini mengorek rahasia paling misterius yang dipunya oleh warga Amerika Serikat. Baiklah, kita siap siap menerima satu, satu dahulu cerita rakyat sana.

Ternyata, Kawan kawan, Patung Liberty berasal dari Nusantara. Indonesia punya. Tak percaya? Begini cerita asalnya.

***

Jauh setelah Paman Columbus menemukan Benua Amerika, seorang gadis Parahyangan masuk ke Negeri Seluruh Negeri di Bumi itu. Ia bernama Iteung. Parasnya sungguh menawan, dengan lesung pipi yang diumbar ke mana mana. Rambutnya tak berkutu, bersih dan terawat dengan baik. Kakinya mulus, jari jarinya tak runcing karena ia sangat rajin memotongnya. Yang paling mengesankan, logatnya yang sungguh Sunda pisan euy, mendayu dayu, dan membuat orang yang mendengarnya terkesima.

Iteung pelajar program beasiswa XXX. Diberi tanda tripel x tiga kali, karena yang memiliki yayasan tak ingin dipublikasikan ke umum. Karena ia beranggapan, memberi tanpa harus menerima. Baiklah, kita teruskan cerita ini,

Mengambil jurusan fashion. Iteung berguru kepada para desainer tersohor. Imajinasinya diasah di sana, berkembang pesat, hingga ia menjadi mumpuni di bidang perakitan busana. Namun, Iteung tetaplah gadis Sunda yang tetap menghargai jati dirinya. Ia selalu mengenakan Baju Bodo di manapun berada.

‘Model bajumu keren sekali, Teng.’ ucap salah satu gurunya, Swansee, dari ras Negroid. ‘Kau beli di mana?’

Iteung menjawab dengan bangga. ‘Wah, di negeriku banyak. Murah murah.’

‘Benarkah?’ si guru mengamati total. Wajahnya bersinar. ‘Berapa harga satuannya?’

‘Kalau beli bijian sama kodian beda, See. Mau kau jual lagi kah?’

‘Iya, aku pengin ngejualnya.’ Dialek Swansee terdengar seperti orang Betawi.

‘Oke. Nanti aku kontak orang orang di negeriku ya.’

‘Baiklah. Aku tunggu ya.’

***

Benar. Swansee dan Iteung berkolabori menjual baju bodo di Amerika Serikat. Dan menjadi tren di sana. Lengkap dengan bandana yang berkelap kelip keemasan, sandal khas Nusantara, membuat wanita wanita di Amerika Serikat tampak anggun dan berseni. Rok mini, ditinggalkan oleh mereka. Mereka menganggap rok yang memamerkan paha tak ubahnya menarik minat para pengisap darah. Bodo meledak di pasaran.

Datanglah seorang Prancis di lapak Swansee dan Iteung.

‘Siapa bos toko ini?’ kata dia.

‘Kami berdua. Bagaimana Tuan? Ada yang bisa kami bantu?’

‘Aku tidak ingin membeli dagangan kalian!’ seru dia. ‘Perkenalkan namaku Bartholdi.’

‘Saya Swansee, dan ini teman saya Iteung.’

Bartholdi mendengus. ‘Kalian telah merusak reputasi kami, negeri kami!’

‘Bagaimana bisa?’ ucap Iteung melongo.

‘Iya. Gelar Negeri Mode nyaris dicabut gara gara kalian.’

‘Hah ….’ Iteung dan Swansee bertatapan wajah.

‘Gara gara dagangan kalian. Dumb Dress!’

‘Kami tidak bodoh Tuan!’ seru Swansee.

Iteung menahan emosi Swansee. ‘Tenang, See. Kita cari tahu dahulu.’

‘Apa itu orang orang sini bilang. Baju Bodoh!’ kata Bartholdi.

Baku mulut terjadi. Tak ada titik terang. Iteung dan Swansee mencoba mempertahankan diri. Francois terus mengomel agar baju bodo tak lagi di jual di sini. Karena ekspor sudah masuk ke Prancis, dan mengganggu penjualan baju baju rancangan di sana.

Singkat kata, Bartholdi ditahan di kepolisian. Karena telah melakukan tindak pemerasan dan perbuatan tidak senonoh.

***

Bartholdi yang malang. Ia sekarang gemar sembahyang. Menyesal dirinya telah berlaku tidak adil kepada penjual baju bodo. Untuk menghapus dosanya, ia merenung dengan menggambar. Untung saja sipir di penjara sangat berbaik hati, memberi Bartholdi berlembar lembar kertas. Jika tidak, tak tahu dinding akan penuh dengan coretan.

Terinspirasi baju bodo, Bartholdi menggoreskan pensilnya ke kertas. Ide ide di kepala Bartholdi bergentayangan. Ada beberapa yang eksotis:

Pelabuhan New York

Patung penanda, seperti mercu penunjuk bagi kapal kapal

Tentu, obor yang memberi cahaya di malam yang gelap

Wah, patung itu berjenis kelamin perempuan. Tentu akan menarik minat para wisatawan

Dan, ia berbaju bodo lengkap dengan jubah dan bandana

Tak lupa, buku tagihan utang

Memang, penjara tanpa disadari terkadang menjadi tempat paling hening untuk berkarya. Jadilah gambar patung liberty.

Tak berniat si Bartholdi menjadikannya simbol terbaik Bangsa Amerika Serikat. Gambar dirinya memenangi kontes Walikota New York. Sebagai tanda penghargaan,Bartholdi dibebaskan dari penjara.

‘Aku harus menemui dua wanita itu!’ janji Bartholdi.

Dicari ke mana mana, Bartholdi tak menemukan. Lapak Iteung dan Swansee sudah berganti Toko Pakaian Mandarin yang kini menggantikan posisi Baju Bodo.

‘Ah, aku sudah berdosa.’

Iteung sudah kembali ke Indonesia. Dan Swansee sudah wafat. Namun Patung Liberty memberi pertanda, jika Baju Bodo Nusantara mengilhami kebesaran bangsa Amerika Serikat.