Hari penghukuman. Bagi mereka yang secara sengaja atau tidak. Yang melanggar rambu, mata buram tak mampu membedakan lampu merah atau hijau, atau ugal ugalan di jalan raya. Inilah pembalasan bagi mereka yang tak taat hukum. Memang, di negeri kita tak menerapkan hukum pancung, rajam, atau setrum listrik bervoltase tinggi. Tapi kejutan ini cukup untuk membelalakkan mata jika hukum negeri Nusantara mulai berjalan.

Aku melanggar rambu. Jalur mobil aku masuki. Sementara motorku tak berSTNK. SIM ada, tapi tinggal sebulan masa berlakunya, untung saja aku bawa. Jadi dua pelanggaran yang kulakukan. Peluit dua polisi menyelak. Mata mereka saling beradu sebelum menatap padaku. Dan salah satunya mengalah untuk menilangku.

‘Kau yang mengurus dia.’ aku membaca gerak bibir satu polisi yang mengalah.

Polisi mendekatiku. Tak ayal keringat dingin meleleh. Paling takutlah diriku dengan polisi. Karena,  banyak orang yang antipati pada mereka. Menilang dengan ujung meminta duit sogokan, memperlakukan para pengendara dengan tidak manusiawi, itulah pendapat yang aku dapat dari orang orang dekatku.

‘Selamat pagi Pak.’ ia berucap dengan menghormat padaku.

‘Pagi Pak.’ jawabku gemetaran.

‘Bapak melanggar rambu. Mohon menunjukkan surat surat Bapak.’

Aku tak mampu menunjukkan STNK. Dan aku sudah siap siap menyodorkan uang kepadanya. Tapi ….

‘Bapak hari Jumat silakan mendatangi Pengadilan Negeri.’ sembari menulis surat tilang, ia tersenyum akrab seakan ingin menunjukkan polisi sekarang telah berubah.

‘Baik Pak.’ aku menjawab.

‘Hati hati untuk selanjutnya Pak.’ Pak Polisi menghormat dan meninggalkan diriku.

Hari Jumat yang dimaksud

Dua hari mempersiapkan diri. Berkaca, berargumen untuk menjawab pertanyaan pertanyaan hakim. Mengapa aku melanggar, bagaimana bisa terjadi, status pekerjaan hingga aku tak mampu membaca rambu, atau jika harus membayar denda terlalu besar maka akan meminta keringanan. Aku tak mau dianggap bodoh di depan penggede hukum. Harus kritis. Karena hukum negeri sudah diketahui telah bocor. Ini yang membuat hatiku dag dig dug disidang nanti.

Jogja mendung. Semoga tak hujan hingga sampai di Pengadilan negeri. Tak ingin jemuran kehujanan sementara si ibu kos yang biasa mengangkat pergi arisan RT. Ah, kalut sekali. Padahal hari ini adalah masa pembuktian, seberapa lihai diriku hasil berkuliah di fakultas hukum.

Motor melaju dengan kecepatan penuh.

Sampailah di tempat sidang.

Wah, parkir kendaraan penuh. Berkeliling , akhirnya dapatlah tempat diriku. Menerima karcis, bergerak masuk, dan … masyaAllah, ratusan orang antre mendapat giliran disidang.

Alamak, aku berpikir apakah Pengadilan Negeri berubah menjadi pasar ternak? Dan ajaibnya, seluruh orang yang berada di pengadilan adalah pelanggar lalu lintas. Semua tanpa kecuali.

Tua muda, lelaku perempuan, berbusana batik ataupun biasa, tak bersepatu dan yang hanya memakai sandal jepit, semua menyatu. Suara riuh bercampur asap rokok yang mengepul memenuhi ruang tunggu. Belum jam delapan, yang berarti pengadilan belum buka. Masih menunggu para penghukum berbayar selesai bersenam ria. Karena hari Jumat adalah masa merilekskan pikiran dan tubuh.

Satu pegawai pengadilan datang. Masih berkaos senam bertulis ‘Anti Suap, Anti Sogokan’. Wah, kejutan sekali. Mereka sudah memantapkan diri untuk menjadi pengadil yang hebat. Dalam hati, aku sangat bersyukur, semoga memang benar adanya. Niat yang baik musti didukung.

Ia mengeluarkan kunci dari saku, dan membuka ruang adilan.

‘Silakan mengumpulkan surat tilang. Tusukkan saja di atas meja.’ perintah bapak pegawai pengadilan.

Sontak seluruh pelanggar lalu lintas berebutan. Saling sikut dan mengomel.

‘Eh eh, harap antre. Yang sopan. Giliran!’ sekali lagi si bapak pegawai memberi aba aba.

Para pelanggar lalu lintas keder. Mengerut tak memiliki taji. Seketika keributan berubah menjadi tertib yang syahdu.

‘Bapak bapak dan Ibu ibu harap menunggu panggilan sidang.’

Bersambung

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta