Tak peduli mata, aku menjadi budaknya. Setiap yang dikata olehnya, aku turuti. Tanpa berpikir lagi apakah rasional atau menjerumuskanku ke jurang. Kumenikmatinya, merasa dunia adalah milik berdua. Antara dia dan diriku.
Teman temanku mengatakan, ‘Ia pemain cinta yang buruk! Rasakan, kau akan tersiksa dibuatnya.’
‘Tak percaya. Dia sangat baik. Di mataku, dia mengerti diriku.’ Jawabku dengan mantap.
Hari demi hari, makin banyak gosip murahan yang masuk ke telingaku. Panas memang aku dibuatnya. Tapi kutahan, emosiku jangan sampai meledak, dilihat orang tak baik. Harus diatur hingga ada bukti kuat. Masih tetap kupercaya padanya. Kekasihku yang jauh raga, tapi hati dekat setengah mati.
Telepon berjam jam. Mulut berbusa busa. Bercerita ini dan itu. Seakan tak ada jarak yang menghalangi percintaan kami.