Dinamis dalam Negeri Arab. Mereka mempertontonkan pertunjukan teramat aduhai kepada seluruh manusia di bumi. Pertempuran tak jelas kapan berakhir, perebutan ladang minyak, perang antar suku, dan cerita cerita tentang Nabi dan penjual beronta. Semua bisa berubah pada rentang detik. Berkomplot dengan Israel secara malu malu, terang terangan, bias di antara keduanya. Berharap bersekutu dengan Amerika Serikat, atau menantangnya dengan risiko mendapat embargo ekonomi.

Arab yang aku kenal adalah negeri para nabi. Ia mengajarkan ketangguhan juga kelembutan. Ustaz semasa kecilku menggambarkan Negeri Arab adalah rujukan segala ilmu. Di sana bertumbuh para pemikir hebat yang melintas masa dan batas negara. Memecahkan permasalahan dengan solusi yang tidak hanya satu kepentingan berlaku padanya, tapi seluruh. Meski siang hari matahari tanpa ampun menghajar kepala, malam dingin menyengat tulang, tak menghalangiku untuk terus berkhayal jika sewaktu waktu tinggal di Arab. Dengan segala riuh rendahnya.

Kini apa? Aku cemburu dengan orang orang Arab. Mereka bermobil mahal. Gaya hidup mereka sangat jetset, karena berlimpah penghasilan minyak. Pialang dan jutawan memamerkan kekayaannya dengan tanpa tanggung. Memang, itu hak sepenuhnya dengan kerja keras mereka. Jika aku berpikir dan berlaku seperti ini, agaknya menjadi tak bijaklah diriku. Tapi apa lagi yang perlu dikritisi?

Ya, perlakuan mereka terhadap saudara saudara negeriku. Memang tidak seluruh kawan Arab. Sebagian. Ada yang menganggap salah satu atau banyak dari kami seperti budak yang layak dilecehkan. Menjadikan kami seperti warga kelas tiga yang bebas untuk diperlakukan dengan tidak adil. Dan, televisi mengabarkan, dua tiga empat tenaga kerja disiksa, diperkosa, atau terjun bunuh diri. Ah, seperti itukah kelakuan kawan kawan Arab?

Tuhan, aku pun tak habis mengerti, mengapa pemerintahku seakan tak memiliki taji untuk melawan. Jika kata lawan tidaklah tepat, memohon ampun atas perilaku membangkang kami atas juragan Arab. Pemerintah kami seolah sangat ketakutan jika ia mendapat azab dari tuhan Arab dengan protes diplomatik. Padahal kami sudah sangat geram untuk menunggu aksi pemerintah. Sekadar perlindungan terhadap kami. Tidak melulu bersolek menampilkan keanggunan. Semata mempertahankan posisi dan kecantikan untuk dipilih di tiga atau dua tahun mendatang.

Arab sekarang sudah berubah. Dan, negeriku terus mengikuti gaya mereka. Tanpa pernah mengkritisi, karena sekali lagi takut oleh tuhan Arab. Tuhan yang sesungguhnya, tak tahu harus berbuat apa dengan keadaan seperti ini?