Paparazi memburuku. Keparat mereka. Lensa kamera mereka membuatku ketakutan. Jika jepret mengenai wajahku, rasanya pengin muntah. Seluruh isi perut ke luar. Ingin kusembunyi, rapat rapat di kolong tempat tidur, tapi tetap saja mereka bisa tahu di mana diriku berada. Apa yang harus kulakukan untuk menahan serangan mereka Paparazi?

Kulaporkan ke polisi, risiko media akan ikut mengendus. Mereka lebih parah. Menambah atau mengurangi beritaku yang sebenar benarnya. Entah bibirku yang dibilang disuntik silicon, atau rambutku diwarnai cat tembok. Semua jadi tak beraturan. Ya, kukembalikan lagi, menjadi seorang artis beken adalah begini. Ingin berlaku biasa, sudah tak bisa lagi.

‘Satpam, amankah di luar?’ tanyaku sembari menutupi tubuh dengan seprai sebelum masuk ke limusinku.

‘Sudah Tuan.’

‘Jangan panggil aku Tuan.’ Kukibaskan tanganku. ‘Panggil saja Aak.’

‘Oke Aak.’

Tiga satpam besar. Mukanya kupilih yang mirip anjing bulldog.

‘Oh ya Ak. Kalau begitu, panggil kami bodyguard aja yah.’

‘Betul juga. Bodyguard.’ Setujuku.

 

***

Limusin menuju tempat pertunjukan. Panggung rakyat. Di sana, aku akan mempertontonkan kehebatanku yang selama ini menjadi buruan awak media dan tentunya Paparazi. Dua potong roti berkeju dengan satu gelas susu hangat tersedia di dalam mobil. Sarapan di tengah kesibukanku yang sangat padat.

‘Bod. Sekali sekali, sarapan yang berat dong. Jangan roti melulu.’

Mereka mengiyakan. Satu manajer cantik di sebelahku, mencatat. Ia tak banyak bicara. Karena ia bisu, yang kuambil dari Panti Asuhan. Biar begitu, ia sangat teliti dan setia padaku. Jadi tetap kukaryakan sebagai penunjuk aku memperlakukan orang berkebutuhan khusus secara semestinya. Seperti aku berlaku pada manusia lain. Ia sama dengan kita.

‘Gimana, aman buatku show kali ini? Nggak ada paparazzi?’

‘Aman Ak.’

‘Ah biarpun ada, kalian harus memberi jaminan keamaman padaku. Oke?’

‘Pasti Ak.’