Warnet Poker

Mata sudah mengantuk. Tapi monitor masih menyalak untuk tetap diikuti. Menawarkan kegemaran yang mengisi relung kesepian. Bermain Poker. Hingga mataku sembap, wajah kuyu, berharap dolar demi dolar masuk terperangkap ke dompet. Keasyikan yang terus kuikuti. Tak peduli, billing warnet terus berputar, beralih dari ribuan ke dua puluh ribu.

‘Tahan. Azan sudah memanggilmu.’ Bisik sesuatu di telinga kananku.

Wah, ada kata tahan. Aku berpikir, apakah itu bisikan malaikat yang ingin membantuku. Beralih dari kesenangan sesaat, berpoker, menuju surga? Atau, tahan berarti satu iblis mengizinkan diriku untuk meneruskan poker setelah shalat?

Bunyi musik keras. House, hip hop, dan R and B. Bergantian, terus menyihirku untuk tetap duduk menelanjangi permainan poker. Banyak lawan yang menunggu untuk dilumpuhkan. Dan tentu kesenangan yang terus memburuku mutlak kudapat.

Kuputuskan untuk lanjut bermain. Masa bodoh shalat.

Satu pelayan datang. Memberikan satu gelas kopi hitam ke teman di sebelahku.

‘Mas, pesan juga kopi!’ perintahku.

Tanpa melihat si pelayan, aku memencet mencet keyboard dengan mantap.

‘Manis tidak Mas?’ tanya sang pelayan.

‘Manis!’

‘Mohon ditunggu.’

Sepuluh menit, kopi sudah terhidang. Mataku kembali melotot. Siap untuk diajak bertanding.

Mukaku sudah menjadi poker. Game yang sangat menggairahkan. Seperti senjata pelumpuh waktu waktu senggang. Tuhan, lindungi diriku dan berikan kesehatan padaku.

Dunia Imajinasi Poker

Pemain poker kebelek boker. Seperti si Joker yang kekurangan serat, masuk ke toilet dengan kesakitan. Sejenak melupakan permainan, berharap hajat dituntaskan. Melihat antrean sangat panjang, pemain joker mengerut. Niatnya diurungkan untuk selanjutnya beralih ke meja makan di restoran.

‘Ada koran terbaru? Aku butuh informasi.’

‘Yang gratis atau beli, Pak?’ tanya pelayan resto.

‘Kau melecehkan aku ya!’

‘Tidak Pak. Kalau koran gratis, belum datang.’

‘Jadi aku harus menunggu? Belikan saja di luar, ntar aku ganti uangnya.’

‘Oke Pak.’

Seperempat jam. Pelayan belum sampai. Apakah ia tersangkut di tempat lain, atau keserempet bus kota yang urakan di jalan? Gelisah, pemain poker bercabang hatinya, antara kembali menuju ruang poker, boker, atau menunggu koran datang. Tiga pilihan yang tidak mudah.

‘Sial, lama sekali itu pelayan.’ Gerutunya di meja. ‘Beli koran saja lama banget.’

Datanglah si pelayan.

‘Maaf Pak. Koran yang Bapak cari susah. Saya cari ke mana mana, baru nemu nih Pak.’

‘Emang aku bilang koran apa gitu?’

‘Seputar Indonesia kan?’

‘Wah kamu. Telingamu dibuka dong. Aku cuma bilang koran.’

‘Ndak dengar Pak. Saya pikir Bapak butuh Seputar Indonesia.’

‘Ya sudah. Sini,’ pemain poker menyambar koran. ‘Ini uangnya. Ambil kembaliannya.’

‘Terima kasih Pak.’

Kebiasaan lama. Di WC selalu dengan bacaaan. Pemain poker beranggapan, membaca di toilet tak ubahnya di perpustakaan dengan buku buku antiknya. Semua imajinasi tumpah, perpustakaan menjadi ruang mencari ide paling ideal. Menujulah ia ke WC. Antrean sudah tidak ada.