Delicioso

Leave a comment

Delicioso anjing baruku. Ia berbulu putih lembut dengan totol totol mirip Dalmation milik tetanggaku. Sekarang, aku punya teman yang kelak jadi sahabat pengiringku jalan jalan di taman.

Tahukah kalian jika nama Delicioso kukasih sebagai penghargaan baginya akan kelezatan dagingnya kata sobat Nasraniku? Ya, nama itu sangat tepat hingga aku tak harus mencicipinya, cukup dengan nama, ka

rena keyakinanku yang tak membolehkan menyantap anjing.

Kandang Delicioso kucat emas. Ini pun sengaja agar ia nyaman di dalamnya, tak mengeluh, dan manut padaku. Tak mau diriku membeda bedakan dengan burung perkutut piaraanku yang menggantung di langit langit ruang tamu. Anjing dan perkutut sama posisi dan kudu diperlakukan sama.

‘Tidurlah nyenyak, Oso!’ ucapku berbungkuk menatapnya saja karena aku belum berani mengusap tubuh Delicioso.

Ia mengangguk, buntutnya bergerak ke sana kesini, dan matanya sayu menunjukkan letihnya menuntaskan perjalanan dari toko hewan langgananku sampai rumah ini.

***

Subuh ini sangat dingin membekukan tulang. Telingaku bergetar getar oleh panggilang azan seorang muazin tua bersuara buruk diikuti kokok jago dan anehnya si Delicioso ikut pula menyalak pelan. Anjing baruku itu tak menggonggong keras seolah tahu jika itu akan jadi bumerang baginya disangka melecehkan umat Islam.

‘Oso, berlakulah sopan!’ teriakku bangkit dari ranjang dan menapak dengan kakiku seakan tersobek oleh dinginnya lantai.

Delicioso sekarang malah kalap. Aku tidak enak dengan tetangga sebelah. Darah masuk ke jantungku tak keruan. Cepat cepat aku menuju kandang Delicioso.

Seorang lelaki tingg besar berjubah putih bersih berjanggut panjang hitam ada di dekat kandang Delicioso. Ada sebuah pedang mengilat di tangan kanannya.

‘Anda mau apa, Pak?!’ teriakku memasang kuda kuda.

Rahasia Cat Woman Terkuak

Leave a comment

‘Cat Woman bukan jagoan Amerika Serikat ternyata, Pakne!’ ujar Surti sambil menampar suaminya yang sempoyongan dengan lembar lembar koran berhamburan.
‘Ada apa je, Bune ….’ si suami mengelus elus pipinya yang memar biru. Ini seringkali Surti lakukan sebagai tanda kasih sayang.
‘Ya kita selama ini dikadalin Amerika Jahanam itu!’
‘Jaga bahasamu, Bune. Tidak enak sama t

etangga.’
Surti merangkul suaminya erat erat, saking kuatnya bagaikan pegulat yang melumpuhkan musuhnya.
‘Ini lihat BBM berita heboh itu!’ tunjuk Surti.

Mata suami Surti minus parah. Ia melotot lotot tetap saja tak mampu melihat berita yang tertampil di layar Blackberry. Surti tanggap dan meloncat lari untuk kembali membawa suryakanta.

‘Benar juga, Bune. Keparat memang Amerika!’ seru suami Surti.
‘Ulangi kata umpatan tadi, Pakne. Pakne jadi seksi kalau berkata kasar.’ Surti gemas mencubit pinggang suaminya.
‘Amerika mempekerjakan TKW kita, kasih baju kucing hitam, buat jadikan mereka tukang cat gedung gedung tinggi tanpa tali pengaman.’
‘Yah, itulah kita Pakne. Multitalenta sih.’

Joker BerGangnam Style

Leave a comment

Joker naik kuda lumping. Hamburger di tangannya ia buang, ia ganti dengan beling yang dipungutnya di tanah. Ia bergoyang goyang seperti biduan dangdut, geal geol kanan kiri dengan matanya mendelik seperti Malaikat Izrail segera mencabut nyawanya. Penonton bergemuruh, meloncat loncat bak atlet Trampolin, dan bertepuk tangan melihat aksi Joker yang sangat keren.

‘Hai, Pen

onton!’ sapa Joker manis. ‘Mau makan ini kaca? Heh, ini … ini ….’

Tangan Joker terulur ke penonton yang kepalanya gedek gedek alias menolah noleh. Tahu kalau simpati tak ia dapat, Joker bertingkah seperti seorang joki pemenang Olimpiade.

‘Hai, Penonton! Ini goyang Gangnam Style!’ seru Joker. ‘Ikuti gerakanku ….’

Benar, kali ini penonton merespon dan meniru apa yang Joker lakukan. Ia pun menyuruh seluruh hadirin untuk tersenyum sekaligus melepaskan beban yang ada di benak, otak, pikiran, di manapun.

‘Ayo, rayakan kemenangan kita!’ Joker kembali berseru. ‘Tunggu ….’

Penonton berhenti dan saling menatap bertanya tanya mengapa Joker menghentikan gerakannya.

‘Kalian tertipu olehku,’ Joker tertawa kuat kuat. ‘Gangnam Style meniru Kuda Lumping. Kalian mudah kupengaruhi ….’

 

Nenek Tumpuk sang Dukun Bayi Legendaris

Leave a comment

Dalam perjalanan ke Bandung, temanku Brutus si pemegang kendali mobil berkisah:

‘Danie, tahu nggak kau?’ Logatnya kental Batak yang kalau belum kenal dengannya orang akan menyangka Brutus sedang marah.
‘Aku lahir dari ibuku atas bantuan Nenek Tumpuk!’ tambahnya.

Sekilat imajiku menebak nebak siapa dan bagaimana rupa Nenek Tumpuk? Pasti bidan, kubatin.

Lalu kenapa namanya Nenek Tumpuk? Apakah tugasnya bertumpuk tumpuk? Atau, ia bidan dengan anak selusin yang mereka tinggal di rumah kecil hingga tidur mereka saling bertumpuk?

‘Kalau nggak ada itu Nenek Tumpuk, aku sudah mati sama ibuku?!’ Brutus menjelaskan yang kutoleh matanya berkaca kaca.
‘Nenek Tumpuk bidan, Brut?’ tanyaku.
‘Dukun bayi, Dan! Dia siapa yang nggak kenal di kampung kami di Binjai? Semua tahu. Padahal, Dan, Nenek Tumpuk tak pernah mengenyam ilmu kebidanan! Ia hanya mengandalkan insting sama pengalaman!’

Brutus lantas bercerita panjang lebar tentang Nenek Tumpuk yang ternyata ia tak tahu arti nama dukun tua itu. Kesannya begitu mendalam sampai kuperhatikan bibirnya berkali kali melengkung tersenyum.

‘Nenek Tumpuk tak pernah pasang tarif, Dan. Ia naik sepeda mengecek ibu ibu yang hamil di kampung. Itu kata ibuku. Ajaibnya, ia bisa bantu bayi sungsang ke luar! Dokter kandungan top Medan sampai hormat padanya!’

Aku percaya Brutus meski dia Batak aku Jawa. Sudah lama kami bersahabat, ceritanya juga milikku. Dan aku jadi membandingkan zaman sekarang apakah ada tukang bantu persalinan yang tulus seperti Nenek Tumpuk? Tidak ada, yakinku.

‘Sekarang Samio anak lelakinya yang mewarisi keahlian si Nenek.’ kata Brutus parau.
‘Jadi bidan bayi juga? Asyik dong!’ candaku.
‘Tapi tukang urut. Enak juga meski jauh dari ketrampilan Nenek Tumpuk yang melegenda!’

Aku menyebutnya: Insting Nenek Tumpuk.

Terbaru di http://www.duniasirkusdannie.wordpress.com
Meribut di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta

Cerita asli: Yopie M. Batubara
Gambar: bidanshop.blogspot.com

 

Sultan Hamengku Buwono 9, Burung Kuntul, dan Datik si Gadis Jalanan

Leave a comment

BAGIAN 1:  PERJUMPAAN

Di perempatan MM UGM. Panas, keringat para pengendara meleleh di pipi mereka yang terbakar. Lampu lalu lintas masih merah menyala. Kaki kaki bergoyang gelisah berharap hijau segera menghantam mata. Satu polisi asyik memainkan hapenya. Ia tersenyum, matanya mesum. Ada keasyikan yang tengah ia lakukan.

Dari teduh pohon, seorang bocah turun jalan. Kulitnya legam seperti aspal yang terus dihajar panas mentari. Di tangan kanannya, mainan dibuat dari tutup tutup botol yang ia rakit sendiri. Dipukul pukulkan di telapak tangan kirinya. Ia bernyanyi.

‘Cinta ini, kadang tak ada logika ….’

Agnes Monica lah yang ia tiru. Namun suaranya lirih. Nyaris menggumam. Satu kalimat saja, tak tuntas ia mengamen. Pun ia berputar sebelumnya mengeluarkan plastik permen yang mengilat. Sekarang, ia meminta belas kasihan para pengendara yang terus mematung.

‘Mas ….’

Seorang pemuda tampan tak menggubris. Ia melirik si bocah jalanan seolah ingin menendangnya. Dengusan pun terdengar meluncur dari cuping hidung si mahasiswa yang berdenyut.

‘Mbak ….’

Bocah jalanan mengulurkan plastiknya. Perempuan bertubuh gendut acuh. Ia menyibakkan poninya yang ke luar dari helm standar bermotif bunganya. Merogoh saku, ia mengeluarkan uang. Koin. Betapa si bocah jalanan melonjak. Ia makin percaya diri meluruskan tangannya.

Namun, si mbak yang nyaris berbudi baik itu melemparkan koinnya. Tak jelas ke mana. Bocah jalanan ribut mengejar koin yang bergulir dan berputar putar di jalan.

‘Makasih, Mbak!’ si bocah jalanan berdiri melemparkan senyum ke perempuan itu.

Lampu masih merah. Dan, semua BERHENTI. Tak ada pergerakan di perempatan MM. Waktu tak berjalan. Orang orang diam. Motor pun tak menderu. Mobil pun begitu dengan pengemudinya yang kaku. cah jalanan bingung. Ia mengitari pengendara motor, menatap mereka satu per satu.

‘Ada apa ya, ini?’ ucapnya. ‘Kenapa mas dan mbak ini semua jadi patung?’

Kepalanya ia garuk garuk. Baru kali ini ia menemui kejadian aneh. Timbul hasratnya untuk menarik dompet satu pengendara yang menyembul. Atau, satu tas berwarna moncer ia saut untuk dibawa kabur.

‘Tuhan, aku takut nanti disel. Juraganku akan mencariku ….’

Bocah jalanan mendongak. Pepohonan tak bergerak meski angin tetap berembus.

‘Kiamatkah ini, Tuhan?’ tanyanya keras. Siang ini ia bergidik.

Bayangan bocah jalanan pun tertarik saat gempa tempo lalu. Jogja koyak. Ayah dan ibunya mati tertimpa tembok rumah yang rubuh. Seminggu di kamp pengungsian, ia jenuh dan minggat. Tak ada yang mencarinya. Ia lantang luntung di jalanan dengan hati yang goncang. Dan, ia bertemu seorang ibu yang sangat baik hati.

‘Siapa namamu, Manis?’

‘Datik.’

‘Ayo ikut aku, Nak!’ kata si ibu sambil memberi nasi bungkus. ‘Tinggal di rumahku. Nanti kuberi kau makan enak enak!

Datik pun manut. Perutnya lapar sekali. Ia menyangka si ibu itu peri yang datang tepat waktu saat dirinya nyaris pingsan. Dipapah, rumah si ibu megah. Setinggi pohon kelapa.

‘Kau mandilah. Gabunglah sama teman temanmu di dalam!’ katanya.

Di dalam rumah, banyak anak kecil. Mereka sedang duduk memutari meja makan yang di atasnya tampak makanan lezat. Datik mendekat.

‘Siapa kamu?!’ bentak satu anak yang berperawakan tinggi besar.

‘Da ….’

Belum sempat Datik menyelesaikan ucapannya, si anak besar tertawa keras.

‘Kau masuk sini, nggak akan bisa ke luar!’

Itulah awal Datik terjun di jalanan. Ia telah masuk perangkap. Berkali kali ia berusaha melarikan diri, namun juragannya selalu berhasil menahannya. Pasrah ia pun bekerja mengamen di perempatan MM UGM.

Satu bayangan melesat. Hampir menyambar telinga Datik.

‘Apa itu?’ seru Datik. Ia berlari meninggalkan pengendara yang masih diam tak bernyawa.

Kaokan terdengar jelas. Di pucuk pohon mahoni, seekor burung kuntul hinggap.

***

BAGIAN 2: KUTUKAN NEGERI ARAB

Datik tepat di bawah pohon mahoni. Burung kuntul menunduk tersenyum. Matanya mengedip sebelah. Dan anehnya, perempatan MM hidup lagi. Motor dan mobil melaju. Deru kenalpot mereka tak memalingkan Datik yang terpesona dengan Burung kuntul di atasnya.

‘Ayo turunlah!’ seru Datik sembari mengangkat tangannya seolah ingin berkenalan.

Burung kuntul menggeleng.

‘Ndak papa. Sini main sama aku!’ tambah Datik. ‘Kau ndak percaya aku?’

Mendaratlah si burung kuntul di tanah. Cakarnya menimbulkan bekas.  Awal yang enggan telah berubah semangat saat Datik mempertanyakan kepercayaan dirinya pada manusia.

‘Ada apa?’

Si burung kuntul berkata. Ia bisa bicara.

‘Kau … Kau ….’ Datik gagu.

‘Baru kali ini tahu binatang bisa bicara ya?’ tanya si burung kuntul. ‘Namaku Kasim.’

Datik masih saja tak percaya. Dikucek kucek matanya.

Seorang polisi menilang dua mahasiswa yang tak pakai helm. Namun mereka bersepakat damai. Uang membungkam mulut pak polisi yang sebelumnya garang.

‘Aku dulu putera mahkota Kerajaan Arab. Dikutuk aku karena bandel!’ kata Kasim.

‘Oya?’ Datik jongkok. Ia mengamati muka Kasim yang polos. Tak ada gurat kebohongan.

‘Kok bisa sampai di YK kau, Sim?’ tambahnya.

‘Panjang ceritanya ….’ Kasim menghela napas panjang. Pandangannya kini nanar. ‘Ini karena kesalahanku. BODOH aku!’

‘Apa?’

***

Bagian 3: AMANAH YANG TERABAIKAN

Hutan kecil di belakang pos polisi di perempatan MM UGM dingin. Rerimbunan pohon menutup kemungkinan sinar matahari masuk. Tak ada peluang ia mencium tanah basahnya. Tak ada hewan di sini. Burung burung kuntul yang lain tengah bermain di sawah yang entah di mana. Tupai tupai tadi izin arisan di Graha Sabha Pramana. Hening, senyap seakan ada yang disembunyikan di tempat ini.

‘Kita ngobrol di dalam saja,’ ucap Kasim si burung kuntul menunjuk rumahnya. ‘Orang orang akan dengar kita. Bahaya!’

‘Aku ikut saja.’ kata Datik parau. Ia tak biasa di gelap hutan. Di panasnya perempatanlah ia seolah bermukim tetap.

Datik membuntuti Kasim yang terbang rendah. Burung kuntul itu sesekali menengok ke belakang memastikan Datik tidak lari.

‘Masih jauh nggak, Sim?’ tanya Datik.

‘Alah sebentar lagi.’ jawab Kasim.

‘Aku takut bosku cari aku ….’

‘Lupakan dulu itu Bosmu!’

Kasim tahu jika Datik dipekerjakan oleh orang dewasa jahat. Namun ia belum mengatakan itu padanya. Perlahan Kasim akan memberi tahu gadis malang itu.

‘Nah, sudah sampai!’ seru Kasim.

Datik terengah engah memegang lututnya. ‘Mayan jauh, Sim …’

Kasimmenunjuk sarangnya di atas pohon yang paling besar di tengah hutan kecil itu. Datik ternganga.

‘Sarangmu di atas sana?’tanyanya.

Kasim mengangguk. Ujung paruh atasnya tampak terpotong.

‘Inilah rumahku. Jauh dari keramaian orang orang Jogja. Mahasiswa.’ Kasim mengucapkannya berat.

‘Gimana, Sim? Tadi kau mau cerita tentang dirimu di Arab!’

‘Oya!’ seru Kasim teringat. ‘Jadi aku dulu putra mahkota. Disuruh bapakku nemuin Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Katanya raja besar di Jogja ini!’

Datik menggeleng. Ia tak pernah dengar nama itu.

‘Siapa dia, Sim?’ tanya Datik.

‘Raja. Baik kata bapakku. Aku disuruh berguru padanya.’ jelas Kasim.

‘Begitukah?’ tanya Datik. ‘Tapi kenapa kau jadi burung?’

Kasim melihat kanan dan kiri.

‘Ya di tengah jalan aku kepincut cewek cakep. Dugem, minum arak sampai mabuk. Bapakku tahu.’ terangnya.

‘Lalu bapakmu suruh kau balik?’ tanya Datik.

‘Aku yang ga mau pulang. Di Jogja sini berbulan bulan. Bapak tahu. Marah besar sampai aku dikutuk jadi gini!’

‘Sekarang bagaimana?’

Pundak Kasim naik dan turun. ‘Tak tahu ….’

‘Gimana kalau aku usul kita cari Sultan apa itu tadi?’ tanya Datik.

‘Wah, bagus itu …..

****

Bersambung

Sudahkah Anda ber-Yahudi hari ini?

Leave a comment

Anda adalah bagian dari Yahudi. Terlicik, meski kau mengingkari, ialah terselip di darah separuh ayah dan ibu. Paling hebat, berpikir tajam, terkadang tak kenal siapa teman apalagi musuh, sifat Yahudi ada dalam diri kita. Saat bersungut sungut, membaca judul cerita tak berdasar ini, Anda sudah menjadi Yahudi. Tak percaya, mesin pengukur kebohongan akan membuktikan seberapa cc gen Yahudi dalam tubuh Anda.

 

Memusuhi Yahudi tanpa kejernihan akal, kita terperangkap olehnya. Mengapa Tuhan mencipta ras Yahudi? Saya tak mengerti. Tentu Anda yang lebih tahu. Karena jika Anda berniat membantai Yahudi hingga tak ada satu pun mereka berhak hidup, Anda lebih tahu sifat mereka dari saya. Apalah saya, saya di Indonesia saja. Tak ke mana mana. Otak saya sempit, itupun diselubungi sawang sawang. Kelebihan Yahudi adalah Anda, kekurangan mereka juga punya Anda. Saya, Indonesia.

 

Masih menyangkal? Ada yang bilang, Pancasila mirip sekali sari keimanan Yahudi. Biarlah, saya tak mengenal leluhur pembuat negeri ini. Anda yang lebih tahu. Hingga Anda tak malu mengangkat parang merasa berhak menentukan negeri ini. Ya, itu pendapat Anda kan? Saya mengamati Anda saja. Ya. Yahudilah diri Anda.

 

Tapi saya masih yakin, jika sisi baik Yahudi ada dalam diri Anda. Tak membakar tubuh saya karena tulisan ini masih ada pada Anda. Oh, bukan. Itu berasal dari nurani. Bukan Yahudi.

Tak peduli siapa Anda. Keyakinan apapun Anda, saya menghargai. Yahudi dalam cerita ini adalah bualan belaka.

Jusuf Kalla, Cindy si Cendrawasih, dan Komedo si Komodo Tua

2 Comments

Apakah Tuhan salah menakdirkan kita hidup di negeri ini? Indonesia dengan segala pernak pernik yang membangunkan warganya di subuh buta. Dengan gemerisik air kali, ikan berlompatan sekadar mereka ingin menghirup oksigen berbau daun daun basah. Atau, paman petani bersiap ke ladang berbekal satu bungkus nasi dan lauk untuk dinikmati di siang panas di bawah pohon rindang. Tuhan pasti punya alasan tersendiri hingga kita berada di sini. Di Nusantara yang tak ada satupun yang tak ada. Semua dihamparkan dengan sungguh hebat.

 

Di manapun kita berada di Indonesia, dua bagian wilayah ini mempunyai cerita tersendiri. Papua dan Flores. Di ujung timur, jauh dari Nangroe Darussalam yang agamis berhukum muslim sepenuhnya, ratusan kilo dari Yogyakarta yang menuntut keistimewaan yang tetap namun pusat tak kunjung memberi kepastian. Flores dan Papua adalah cerita indah lain di belantara kekalutan negeri yang tengah membangun, bangun dari mimpi mimpi tak sedapnya.

 

Inilah kisah: Cendrawasih dan Komodo. Tentang keelokan dan ketangguhan melintasi jutaan masa. Hanya ada di negeri kita.

 

***

Komodo merasa tersanjung. Di penghujung tahun 2011, ia dibincangkan tak henti tak kurang seluruh pujian teruntuknya. Binatang purba berusia jutaan tahun, berrumah pantai berpasir mengilat, ia bermukim di daerah yang jauh dari bising seperti Jakarta. Siap dipromosikan ke pentas dunia, dikatakan ajaib, komodo menjelma calon hewan berkapasitas internasional. Dan seluruh makhluk di muka bumi diwajibkan tahu. Jika komodonya jadi menang di pemungutan suara berdasar SMS.

 

‘Dasar manusia Indonesia,’ satu komodo menjulurkan lidahnya. Liur berparasit mematikan jatuh ke tanah. ‘Kalau tahu aku mau jadi artis, aku dari dulu dandan habis. Sekarang sudah terlanjur mukaku jelek begini!’

Berjalan dengan lambat, si komodo mendekati kubangan lumpur. Menyesapnya dalam hitungan detik, ia menggoyangkan leher, perut, tak lupa buntut. Pantai di pulau komodo tinggal nyaris tak bersuara. Tenang, tak ada kekacauan. Jika pun ada sebutir kecapi yang akan jatuh, pasti seperti ia meminta izin kepada tetua komodo. Tak boleh ada keributan. Semua mengikuti gerak komodo yang luwes, seakan menikmati setiap langkahnya di pasir pantai.

‘Aku masih haus!’

Komodo menatap pohon kelapa sejarak seratus meter.

‘Wah, aku harus minum itu kelapa. Sedap betul kelihatannya!’

Badan si komodo terangkat, dua kaki depannya ia tepuk tepukkan sembari berlari cepat. Separuh perjalanan, komodopun berjalan dengan lambat kembali. Sepuluh menit, bersama satu kalajengkingnya yang muncul dari dalam tanah, komodo sampai di bawah pohon kelapa.

‘Kurang ajar!’ si komodo memekik. ‘Basah basah apa ini di kepalaku?’

Sekelebat, dengan kaokan yang merdu. Cendrawasih bertengger di dahan kelapa.

‘Siapa kau?’ komodo bertanya keras. ‘Kau beraki aku?!’

Cendrawasih bersisir. Memamerkan bulu bulu indahnya dengan paruh yang didongakkan bersama kepalanya yang kecil namun anggunnya bukan kepalang. Ia lantas mengadu jari kaki kanannya dengan sebelah kiri. Bersiul panjang, ia memelototkan mata ke arah komodo tua buruk muka. Bulu mata si cendrawasih naik turun dengan irama yang pas.

‘Aku Cindy,’ si cendrawasih mulai berbicara. ‘Kau pasti sudah kenal aku. Dari buku yang kau baca, kau mengetahuiku detail dari ujung rambut sampai kaki kan?’

‘Genit sekali kau!’ seru si komodo. ‘Aku Komodor!’

‘Apa? Komedo?’ ucap Cindy dengan suara membuai. ‘Dewa Papua, ampuni saya. Jauhkan saya dari komedo di wajah saya!’

Cindy membungkuk, mengentakkan badan hingga bulu bulunya bergetar. Seolah ia berdoa memohon bantuan Dewanya.

‘Dari mana asalmu?’ tanya Komodor.

‘Papua, Komedo.’ jawab Cindy.

‘Jangan panggil aku komedo!’

‘Lantas apa aku harus memanggilmu.’

Cindy mengeluarkan cermin. Paruhnya ia poles dengan lipstik merah jambu. ‘Cantik kan aku?’

‘Aduh, kau burung setres.’

Komodor menggaruk garuk kepalanya dengan kaki kanan sebelah muka. Tai si Cindy bercampur pasir pantai sekarang.

‘Eh Komedo,’ tanya si Cindy. ‘Tahukah kamu, di mana rumah Pak Kalla?’

‘Siapa itu Kalla?’

‘Jusuf Kalla. Je – Ka,’ jelas si Cindy. ‘Masa nggak kenal sih?’

‘Ya aku tidak tahu. Emang mau ngapain kau ama si Kalla?’

Si Cindy turun ke bawah. Mendekati Komodor.

‘Aduh bau sekali mulutmu,’ ucap Cindy. ‘Mandilah kau!’

Komodor mulai naik darah. ‘Sudah, katakan saja niatmu ke sini apa, cari Je Ka ada urusan apa?’

‘Sabar Komedo.’ Cindy mengulur sayap sebelah kanan. ‘Kita salaman. Nanti aku ceritakan tuntas.’

 

***

Meribut di www.andhysmarty.multiply.com

Terbaru di www.duniasirkusdannie.wordpress.com

Menggaul di http://www.facebook.com/Dannie.Travolta

 

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.